Senin, 25 November 2019

Self Story: Garis Bawah Novel Ayat-ayat Cinta


Assalamualaikum semuanya…

Gimana kabarnya? semoga segalanya semakin baik yaa ~Aamiin.
Alhamdulillah, aku tidak pernah menyangka akhirnya aku bisa membaca novel sampai selesai wkwkwk (bener-bener baca novel satu buku full). Definisi tuman adalah ketika aku membeli/mendapat novel, kemudian hanya membaca satu part aja hahahaha. Kadang juga ngerasa ngga enak hati, terutama ketika dapet doorprise novel di suatu acara.  Gimana ya? wkwkwk kalo ngga dibaca eman, tapi kalo dibaca kok yaa aku ini ngga terlalu interest. Wkwkwkw dasar aku! Nonton film ngantuk, baca novel apalagi :v




Source: bukurepublika.id

Ajaibnya, hal ini berbeda ketika aku menerima kiriman buku hibah. Tanpa ada angin-badai-topan-halilintar-halang-merintang, aku mendapatkan 4 buku setebal ±2,5 cm. Novel Ayat-ayat cinta, Novel Ketika Cinta bertasbih buku 1, Novel Ketika Cinta bertasbih buku 2, dan 1 Buku tentang Zikir.
Kalian mungkin sudah pernah melihat film yang diadopsi dari dua novel diatas bukan? Iya! Film ayat-ayat cinta dan ketika cinta bertasbih. Nah, hal ini 180 derajat berbeda denganku yang benar-benar blank dan tidak paham jalan cerita dua novel tersebut. Aku pernah dengar bahwa film ayat-ayat cinta memang sangat populer di tahun 2012, tapi apalah aku yang saat itu hanya bocah SMP yang sibuk latihan tari dan tidak paham hara-huru per-filman dan per-novelan di Indonesia.
Awalnya aku berencana membuat resensi begitu, tapi ternyata udah banyak dong wkwkwk. Sedihnya, kebanyakan resensi yang ada di blog-blog suka di-copas bebas untuk tugas Bahasa Indonesia ~hiks -.- Hal itu seketika mewurungkan niatku untuk menulis resensi novel. Budaya ngopas dari blog untuk menyelesaikan tugas itu sama sekali NDAK APIK. Kalau mau bikin resensi yang bagus yaa harus baca novelnya langsung. Ingatt yaa, instan yang enak cuman mie aja (tapi ujungnya kalo berlebihan yaa sama aja ngga sehat wkwkwk).
كُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا فِي غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلَةٍ

“Makanlah kalian, bersadaqahlah kalian serta berpakaianlah kalian dengan tidak berlebih-lebihan dan juga tidak sombong” Diriwayatkan dalam
Sunan an Nasaa`iiy (558), “al Bukhaariy” secara mu`allaq dijazamkan dengannya (4/53).

Pokonya saranku, kalo mau bikin resensi wajib baca novelnya terlebih dahulu. Kurang-kurangi budaya ngopi dari blog.
Tentu saja my lov, from my own mind aku pingin nulis sesuatu yang berbeda. Ketimbang resensi Novel, aku ingin mencatat kalimat yang sudah aku garis bawahi (hal-hal penting). Rasanya, itu akan menjadi lebih berfaedah sebab layak untuk diingat dan diambil nilai-nilainya.

“Baiti jannati. Rumahku adalah surgaku. Tempat yang kami tinggali ini harus benar-benar menjadi tempat yang menyenangkan.” ~Bagian 1, Halaman 20.
Sebagai manusia yang minim kemampuan Bahasa asing, aku menganggap Baiti Jannati adalah kalimat yang keren wkwkwkw. Pas baca kalimat itu rasanya mesam-mesem (maklum anak rumahan). Apakah kalian lebih suka diam dirumah ketimbang keluar-keluar ga jelas? Santuy! You’re not alone. Akupun begitu, dasarnya memang ngga hobi keluar rumah kecuali jika benar-benar ada kepentingan. Menjadikan rumah sebagai tempat yang menyenangkan tentu ngga bisa dilakukan sendiri, sebab ada orang tua dan saudara-saudara yang lain. Minimal, kalian bisa mulai menciptakan zona nyaman di kamar. Setting segalanya supaya terasa lebih nyaman. Ngga harus serba mewah kayak kamarnya prinses, pokonya dibikin se-nyaman mungkin. Rapi, bersih, serba pink, wangi aromaterami, gitu-gitu lah pokonya.
 Setelah selesai, berikutnya mulai jalin komunikasi yang baik antar anggota keluarga (ngobrolin hal yang ringan-ringan, ngaji bareng, nonton pertandingan bola/ufc bareng, makan bareng, atau ngupil bareng wkwkwk ngga ding). Social circumstance and family life itu penting bangetttt. Banyak teman yang salah paham, dikiranya aku sejak lahir deket sama adik-adikku. Ngga! Dulu aku cuek bebek. Bodoh amat soal adek, tapi ortu menanamkan buat saling peduli. Hal itu akhirnya yang membuatku mendekati adek-adekku dan menanyakan segala hal tentang perkembangan belajar mereka dalam hal apapun. Lagian, manusia mana yang ngga luluh kalo diperhatikan dan dipedulikan secara terus-menerus? Secara otomatis sekarang adek-adekku menjadikan aku sebagai teman mereka. Tanpa mengurangi rasa hormat, mereka tahu batas kesopanan gimana memperlakukan aku sebagai seorang mbak tanpa harus merasa lebih senior. Situasi menyenangkan di dalam rumah tercipta dengan smooth meski kadang masih ada aja bumbu-bumbu percekcokan yang lumrah.

“Dan pada kenyataannya, tak ada buku atau kitab di dunia ini yang dibaca dan dihafal oleh jutaan manusia setiap detik melebihi Al-Qur’an” ~Bagian 1, Halaman 24.
MasyaAllah T.T ini bener banget. Teringat kalimat yang disampaikan oleh Syeikh Ali Jaber “Hanya Qur’an yang tidak akan meninggalkanmu. Hanya bacaan qur’an yang menemanimu menuju Allah. Bukan suami/orangtua/anak, tetapi qur’an. Tidak sekalipun bacaan qur’an itu pergi darimu. Kau akan ditemani hingga sampai di Surganya Allah dengan bacaan-bacaan Al-Qur’an. Masa manfaatnya luar biasa seperti itu kita tidak mau membacanya?”
Bacaan Qur’an kalian mungkin lebih baik dan sempurna ketimbang aku yang masih gratal-gratul ini. Untungnya, Allah Maha Baik. Orang yang bacaannya belum lancar justru mendapatkan dua pahala lebih banyak ketimbang yang bacaanya lancar :’) Satu pahala untuk kesabaran membaca Al-Quran, dan satu pahala untuk kesulitan yang dialami ketika membaca Qur’an. Jadi, bersemangatlah! wis pokoe nderes ae terus, No Matter What Keep Reciting Qur’an. Ala bisa karena biasa, kalo masih gratul-gratul yaa belajar baca terus, minta sama Allah kemudahan. My love, gusti Allah mboten sare.  Semoga Allah menjadikan kita semua dan keturunan kita kelak menjadi ahlul qur’an ~Aamiin.

“Di dunia ini memang banyak sekali rahasia Tuhan yang tidak bisa dimengerti oleh manusia lemah sepertiku.” ~Bagian 1, Halaman 27.
Sombat-sambat-sombat-sambat. Ini rasanya kok aku banget ya? Hehehe Astaghfirullah~
Baca Novel ayat-ayat cinta sedikit menyentil batinqu ~Hilih. Manusia hanya bisa berencana ini-itu, urusan hasil masih jadi hak-Nya. Yayaya, benar! Hasil akhir memang representasi dari proses yang sudah diusahakan, tapi bukankah sangat jelas jika Allah selalu campur tangan? Allah sendiri loh yang turun tangan memilihkan apa-apa yang terbaik untuk kita :’)
Kalo kata Gus Baha, “Sebagai hamba kita harus bisa mensifati Pengeran (Allah SWT). Kita ini lemah maka ada Allah yang Maha Kuat. Kita ini miskin, maka ada Allah Maha Kaya. Kita ini polos, maka ada Allah yang Maha Tahu. Kita ini kecil, maka ada Allah yang Maha Besar. Kapasitas kita sebagai manusia ini sangat terbatas, intinya apa? Allah ingin semua dari kita ini hanya bergantung kepada-Nya.” Yap! Allah know who and what best for our life.

“Sebab, hanya Allah saja yang berhak menentukan siapa-siapa yang patut diberi hidayah.” ~Bagian 1, Halaman 27.
Kata Gus Baha, “Ibadah itu punya keangkuhannya sendiri.” Dari kutipan beliau aku mengartikan bahwa kita ndak bisa memaksa orang lain melakukan segala hal yang menurut kita baik, apalagi jika urusan ibadah yang hakikatnya habluminallah. Yang harus saling disadari ialah Jika langkah kita terasa ringan ketika melakukan ibadah, maka disitulah letak Allah memberikan hidayah.

“Tak ada yang berhak melaknat manusia kecuali tuhan.” ~Bagian 3, Halaman 40.
Kalimat ini mengingatkan aku bahwa no judgement itu penting untuk dibiasakan.  Semoga kita semua dijauhkan dari sifat-sifat julid dan nyinyir. Pun, ya? Ndak  perlu menghukumi orang lain baik/buruk, cukup mendoakan yang terbaik aja. Gimana? Mantuls

“Cara menurunkan amarah orang mesir adalah dengan mengajak membaca sholawat” ~Bagian 3, Halaman 44.
Btw ini untuk orang mesir. Kalo untuk orang Jawa Timur, kira-kira piye? Ehehehe. Oiya, di salah satu kajian youtube Ust. Abdul Somad, aku pernah mendengar beliau mengatakan hal yang sama. Jika ada orang yang lagi berantem, maka ucapkanlah sholawat. “Allahumma Sholi ‘Ala Sayyidina Muhammad,” Mereka yang bertengkar akan auto menjawab sholawat tersebut. Minimal ada jeda sebelum melanjutkan amarah berikutnya wkwkwkw syukur-syukur kalo bubar. Cara ini belum pernah aku coba, lah gimana? Aku jarang liat orang berantem. Ngga kebayang sih, pas lagi enak-enak tengkar tiba-tiba nyeletuk gitu wkwkwk enak-enak jare *Ups.

Ngga kerasa dong, ternyata udah 1200 kata wkwkwkw. Sebenernya masih ada banyak garis bawah yang ngga kalah seru. Kalo aku terusin, kuatirnya malah seperti copas novel Kang Abik. Intinya, aku ngga menyesal telah mengurangi jam bubukku untuk baca Novel ini dalam sekali duduk.

Untuk siapapun yang butuh amunisi quote pembangun jiwa, bisa langsung baca novelnya aja ya. Terimakasih buat siapapun yang sudah mampir. Semoga berfaedah yaa, mon map jika ada typo-typo. Jariku bertulang, tapi kesempurnaan hanya milik Allah SWT. hehehe Apaan si? bisa dipahami ya? Wuwuwuw cerdas! ~Sekian.

Ditulis oleh aku yang laptopan sambil nyedu Es Susu Coklat.
Selfiana Hanafi.

Wassalaamu'alaikum warahmah.

Referensi:
Shirazy, Habiburrahman. 2008. Ayat-ayat cinta (sebuah novel pembangun jiwa). Jakarta: Penerbit Republika.
Muftisani. 2016. Jangan Berlebihan. (Online), (https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/16/09/15/odjd4o313-janganlah-berlebihan). Diakses Senin, 25 November 2019.



Continue reading Self Story: Garis Bawah Novel Ayat-ayat Cinta

Sabtu, 09 November 2019

Self Improvement: Berkarir dunia, Berorientasi Akhirat - Ustadzah Oki Setiana Dewi



12 Rabiul Awal 1441H
Masjid Citra Harmoni, Sidoarjo.

Assalaamu’alaikum…

Alhamdulillah akhirnya bisa nulis lagi setelah hiatus lumayan lama karena laptop sempat masuk rumah sakit. Di hari yang InsyaAllah penuh berkah ini, aku akan kembali berbagi catetan ngaji kepada siapapun yang nantinya akan mampir dan membacanya. Harapanku hanya satu, semoga Allah mencatat apa yang Ustadzah Oki sampaikan, apa yang aku catat, dan apa yang temen-temen baca sebagai amalan yang baik. Semoga bisa memberikan manfaat ~Aamiin allahumma aamiin.

Meski masih sangat jauh dalam menteladani akhlak Rasulullah SAW, rasanya tidak lebay jika hati ini bergetar ketika memanjatkan doa agar mendapatkan syafaat Nabi di akhirat kelak. Rasanya, tidak berlebihan jika hati ini sesak, dan air mata pun jatuh ketika merindukan kekasih Allah SWT. Rasanya, tidak keliru jika kepala ini kian tertunduk malu karena mengingkan pertemuan dengan Rasulullah Muhammad SAW sedangkan masih banyak sekali dosa yang dilakukan.
Kepada Rasulullah Muhammad SAW, semoga rahmat senantiasa tercurah kepada Engkau. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad.

Kajian Bersama dengan ustadzah Oki pagi ini diwarnai dengan isak tangis. Seluruh jamaah di dalam masjid dipimpin untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW, dzikir berjamaah, dan memanjatkan doa, kemudian dilanjutkan dengan kajian tentang Surah An-Nisa ayat 34. 

Bismillahirohmanirrohim,
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا
Terjemahan:
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Setelah membaca ayat dan terjemahannya, Ustadzah Oki membagi pembahasan surah tersebut dalam tiga poin besar:

Pertama, Tugas Laki-laki sebagai Qowwam (pemimpin)
Menurut ustadzah Oki Setiana, yang dimaksud sebagai ‘qowwam’ adalah kemampuan untuk memikul tanggung jawab dalam hal menafkahi keluarga. Poin ini kurang terlalu dibahas sih, mungkin karena faktor waktu. Karena aku ingin tahu lebih, akhirnya aku baca ulang dari tafsirq.com. As long, pendapat Ustadzah Oki masih sejalan dengan tafsir Jalalayn yang menjelaskan bahwa laki-laki mempunyai hak dan kewajiban untuk mendidik, membimbing, dan menafkahkan harta mereka kepada istri yang taat. Menilik tafsir Quraish Shihab, beliau juga menjelaskan bahwa laki-laki sebagai qowwam/pemimpin memiliki hak untuk memelihara, melindungi, dan menangani urusan istri.

Hasil diskusi tafsirq.com menjelaskan ayat ini bahwa:
"Yakni berkuasa. Mereka berhak mengatur wanita, menekan mereka untuk memenuhi hak Allah, seperti menjaga yang fardhu dan menghindarkan bahaya dari mereka. Kaum laki-laki juga pemimpin kaum perempuan dalam arti yang memberi nafkah, pakaian dan tempat tinggal. Kelebihan laki-laki di atas perempuan dapat dilihat dari beberapa sisi, di antaranya karena kewalian khusus dimiliki laki-laki, kenabian dan kerasulan juga khusus bagi laki-laki, dikhususkan bagi mereka beberapa ibadah seperti jihad, shalat Jum'at dsb. Demikian juga dilebihkannya laki-laki dalam hal akal, kesabaran dan kekuatan yang tidak dimiliki kaum perempuan. Maksudnya taat kepada suaminya meskipun suaminya sedang tidak ada, ia memelihara rahasia dan harta suaminya.Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli istrinya dengan baik."

Selanjutnya, Ustadzah Oki menjelaskan bahwa pada dasarnya ada 4 jenis KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) yang memicu terjadinya perceraian yaitu: Kekerasan secara lisan, seperti: menghinakan, merendahkan, dan mengatakan hal-hal yang menyakitkan. Dicontohkan, “Kamu istri bodoh!”, “Kamu paling disumpel pake duit juga udah diem!”. Kekerasan secara sifik, seperti memukul yang tidak bertujuan untuk mendidik. Kekerasan secara finansial, misalnya tidak menafkahi. Kekerasan secara seksual.

Kedua, Menjadi Istri yang Salihah
Jika seorang lelaki memiliki tanggung jawab sebagai qowwam, maka seorang wanita memiliki tanggung jawab untuk taat. Yang dimaksud taat adalah mematuhi suaminya dalam hal-hal kebaikan (ini pernah aku tulis juga di postingan tentang perempuan tiga dekade).
Dilontarkan pertanyaan kepada jamaah. “Lebih Salihah mana? Wanita yang berprofesi sebagai Ibu rumah tangga? atau wanita karir?” ngga lama kemudian jamaah diminta tunjuk tangan.

Aku mengangkat tanganku pada dua opsi yang diajukan wkwkwkw. Bukan karena tidak konsisten, melainkan karena bagiku tidak ada opsional ‘mana yang lebih salihah’ diantara keduanya. Bagiku, keduanya sama-sama salihah. Seorang wanita yang mematuhi suaminya untuk tidak bekerja dan fokus mengerjakan pekerjaan rumah adalah wanita salihah (dilihat dari patuhnya) terlebih jika memang suaminya sudah mencukupinya. Sungguh Subhanallah sekali. Seorang wanita yang memilih berkarir untuk membantu perekonomian keluarga juga wanita salihah (dilihat dari keikhlasannya dan ketulusannya membantu) sungguh MasyaAllah sekali. Keduanya sama-sama salihah, bukankah begitu?
Bayangkan saja, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga itu tidak ada jam kerjanya loh. It is a full time job, so do not apply if you only do it part time. Nah trus, apa kabar dengan wanita yang memilih untuk berkarir plus tidak meninggalkan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga? Like the real extra-ordinary woman nggak sih?
Lanjut!
Perihal wanita karir, Ustadzah Oki menjelaskan bahwa gaji yang diterima oleh suami di dalamnya ada hak istri sedangkan gaji yang diterima oleh istri adalah 100% hak istri. Eitss! Jangan berprasangka buruk dulu. Jika niat awal wanita bekerja untuk membantu perekonomian keluarga, maka tentu saja tidak ada anggapan 100% seperti diawal. Bisa jadi malah timbul rasa saling empati dan kerjasama yang baik. Misalnya, atas keridhoan istri maka bisa digunakan untuk bayar listrik, bayar sekolah anak, tabungan umroh, atau kebutuhan lainnya.
Bagaimana hukumnya menggunakan gaji wanita untuk kebutuhan rumah tangga? Boleh. Hal tersebut akan dihitung sebagai sedekah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada dinar yang kamu infakkan di jalan Allah, dinar yang kamu infakkan untuk memerdekakan budak dan dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin. Namun dinar yang kamu keluarkan untuk keluargamu lebih besar pahalanya.” (HR. Muslim).
Terkait ridho untuk wanita yang berkarir. Ada syarat yang harus dipenuhi untuk wanita yang memilih bekerja di luar rumah:
a.       Mendapatkan Izin dari orangtua (untuk yang belum menikah), atau mendapatkan izin suami (untuk yang sudah menikah). Jika mendapatkan izin, maka sah-sah saja jika diniatkan untuk hal yang baik.
b.    Menutup aurat sesuai dengan Q.S Al-Azab ayat 59
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
c.       Tidak merendahkan/ menghaluskan suara. Tentu saja, ketika bekerja diluar rumah, interaksi dengan orang yang bukan mahram akan sering terjadi. Sebisa mungkin komunikasi secara singkat, padat, dan jelas. Jika komunikasi yaa seperlunya saja.
d.       Menjaga kehormatan diri sendiri dan keluarga.
Mengingat kembali bahwa sebenarnya untuk menjadi wanita salihah kuncinya ada dua, yaitu taat kepada Allah (auto taat pada suami), dan bisa menjaga diri serta menjaga harta suami sekalipun suami tidak ada (setia).
Jika poin sebelumnya membahas hal-hal yang menyebabkan perceraian bisa terjadi, maka sekarang kebalikannya. Khusus untuk yang belum menikah, alangkah baiknya jika membuat perjanjian pra-nikah. Misalnya membuat kesepakatan tentang izin bekerja, menanyakan hal-hal yang disukai dan yang tidak disukai dengan maksud menjaga keharmonisan rumah tangga. Hal ini sama persis dengan apa yang dilakukan oleh Anna Athafunnisa dalam novel dan film ketika cinta bertasbih (aku baru tau masa? ternyata pemeran utama dalam film tsb adalah ustadzah Oki Wkwkwkw). Baru beberapa saat yang lalu kelar baca novelnya, eh sekarang Allah perkenankan ketemu sama pemerannya. Fyi, ketika ustadzah Oki menikah dengan suaminya, beliau juga mengajukan syarat pra-nikah yaitu tetap diizinkan untuk melanjutkan kuliah dan berdakwah.
Ustadzah Oki memberikan tips untuk setiap pasangan yang sudah menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga LDR (Long Distance Relationship). Beliau meminta untuk kita menteladani kisah dari Nabi Ibrahim as. dengan ibunda Siti Hajar. Atas kesabaran keduanya, lahirlah keturunan yang luar biasa akhlaknya yaitu Nabi Ismail a.s. Pernikahan Nabi Ibrahim dengan Ibunda Siti Hajar mengajarkan bahwa kita sebagai umat harus menitipkan segala sesuatu pada Allah. Penjagaan manusia itu terbatas, yang tidak terbatas hanyalah penjagaan Allah. Maka titipkan apapun yang kalian saying agar senantiasa dijaga oleh Allah SWT.

Ketiga, Meyikapi Istri yang Nusyuz (tidak Taat)
Banyak hal yang berjalan tidak sesuai dengan kemauan. Tidak menutup kemungkinan tentang poin yang ketiga. Dua poin diatas adalah kondisi ideal, namun bagaimana jika mendapati sesuatu yang tidak ideal? Berbicara tentang menyikapi istri yang tidak taat. Hal yang bisa dilakukan ada tiga. Pertama, menasehati. Kedua, mendiamkan, dan ketiga Memukul. Akan tetapi perlu diketahui bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah memukul istri-istrinya, oleh karena itu memukul adalah opsi yang paling akhir.
Pertama, menasehati. Menasehati ternyata juga ada adabnya. Kita tidak boleh menasehati didepan banyak orang, hal ini karena dianggap sama dengan mempermalukan. Adab menasehati dimulai dari menata niat untuk mengharapkan ridho Allah SWT, kemudian dilanjutkan dengan berbicara empat mata (tidak diketahui atau didengar oleh orang lain), berbicara dengan penuh kelembutan, dan memilih waktu dan tempat yang tepat.
Kedua, mendiamkan. Mendiamkan seseorang adalah salah satu bentuk sikap kesabaran. Memberikan jeda untuk saling meredam ego dan amarah. Bisa dilakukan dengan memberikan space ketika tidur.
Ketiga, memukul. Diperbolehkan memukul asal tidak lebih dari 10x pukulan, dan pukulan tersebut sifatnya adalah pukulan yang mendidik (bukan menganiaya, meninju bagai fighter UFC, apalagi sampai meninggalkan bekas memar). Memukul yang dimaksud juga tidak boleh mengenai bagian wajah, hanya sebatas pukulan yang mengagetkan dengan tujuan mendidik. Namun ingat kembali bahwa opsi ketiga ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Dari kajian diatas, aku banyak mengambil hikmah. Pas nyampe rumah langsung nanya ke ortu tentang keridhoan mereka tentang pekerjaan dan usaha kecil yang kau jalankan wkwkwk telat sih sebenernya, tapi yaaa ngga papa. Pada dasarnya aku tahu mereka berdua ridho dan mengizinkan, tapi apa salahnya menanyakan dan memastikan ulang ya kan?
Baik, sekian dulu untuk kajian kali ini.

Mon maaf jika ada salah-salah pengetikan karena jariku adalah jari biasa yang bertulang ~apasih :v
Yaudah pokonya Wassalamu’alaikum.

Ditulis oleh aku yang belum ganti baju sejak pulang kajian, menghadap kiblat, dan ngetik ginian sambil makan cemilan.
Selfiana Hanafi.



Continue reading Self Improvement: Berkarir dunia, Berorientasi Akhirat - Ustadzah Oki Setiana Dewi

Sabtu, 26 Oktober 2019

Self Improvement: Aku Belum Pernah Kecewa – Tadabbur Q.S Maryam (4)


Assalamu’alaaikum…
Sabtu, 22 Oktober 2019, Aku kembali hadir di majelis untuk mengikuti Kajian Qur’an bersama Ustadz (KALQULUS) yang diselenggarakan oleh @odojsurabaya. Highlight malam itu tidak lain sesuai dengan judul diatas “Dan Aku belum pernah kecewa” yang merupakan bagian dari kalimat terjemahan Surah Maryam ayat 4,
قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا
“Ia berkata. Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.” Q.S Maryam (12): 4
Dipaparkan oleh Ustadz Heru Kusumahadi, LC.,M.Pd.I bahwa surah tersebut menceritakan tentang kekhawatiran terhadap regenerasi. Saat itu Nabi Zakaria berdoa kepada Allah dengan panggilan yang keras tapi lembut. Nabi Zakaria merasa gundah gulana karena diusianya yang sudah tua masih belum juga dikaruniai keturunan.
Sebagai tambahan, aku nyoba googling dan baca tafsir surah Maryam ayat 4 dan 5 yang ditulis oleh Ust. Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I dalam Hidayatu Insan bi Tafsiril Qur’an.  
“Ayat 4, Dengan santun dan suara yang lembut dia berkata, 'ya tuhanku yang maha pengasih dan maha pemelihara, sungguh kini tulang belulangku telah menjadi lemah sehingga aku sering merasa letih, dan rambut kepalaku telah memutih seperti perak karena dipenuhi uban, pertanda bahwa aku telah berusia senja. Namun, aku tidak pernah putus asa dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya tuhanku. Engkau adalah zat yang tidak pernah mengecewakan siapa pun. Ayat 5, Dan sungguh, di masa tuaku ini aku selalu merasa khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku kelak bila engkau memanggilku, padahal istriku seorang yang mandul sejak masa mudanya, maka anugerahilah aku dengan rahmat dan kasih sayang-Mu seorang anak dari sisi-Mu yang akan melanjutkan keturunanku dan menggantikanku menyebarkan hukum dan ajaran-Mu.”
Apa yang disampaikan oleh Ust. Heru dan apa yang aku baca dari Hidayatu Insan bi Tafsiril Qur’an membuatku berpikir bahwa do’a memang alternatif untuk berbincang dengan Allah SWT. Kenikmatan tersebut tidak serta merta difokuskan pada apa yang kita inginkan/keluh-kesah saja, melainkan juga tentang bagaimana adab dalam berkomunikasi kepada Allah SWT. Dari kisah Nabi Zakaria aku bisa melihat bagaimana adab berdoa versi Nabi Zakaria:

Menikmati sholat sebagai salah satu media untuk berbincang dengan Allah SWT.
Salah satu cara yang aku lakukan untuk bisa menikmati sholat adalah dengan memahami arti dari bacaan dari setiap gerakan sholat. Jujur saja, sampai sekarang akupun seringkali merasa susah khusyu’ dalam sholat. Mungkin salah satu penyebabnya karena aku tidak bisa berbahasa arab, sehingga ketika sholat tidak merasa sedang berbincang dengan Allah. Namanya berbincang, pasti lebih terasa nyambung ketika Bahasa yang digunakan juga bisa dipahami. Barangkali kalian sudah tahu arti dalam setiap bacaan sholat yaa Alhamdulillah wa syukurillah, jika belum yaa ayuk sama-sama buka gadget untuk cari tahu (ngga harus lewat buku tuntunan sholat).
Beberapa waktu yang lalu aku membuka buku tuntunan sholat demi memuaskan rasa ingin tahuku terhadap apa arti dari bacaan yang selalu aku ucap ketika sholat. Setelah membaca dan mengingat terjemahan dari bacaan pada sholat, MasyaAllah rasanya tuh bisa nikmatttt gitu. Ngga tergesa-gesa dalam menjalankan sholat. Misalnya ketika sujud kita membaca “Subhaana robbiyal a’laa 3x” memiliki arti “Maha Suci Robb-ku yang Maha Tinggi”.  Lebih nyess lah pokonya.

Berdoa dengan menggunakan Bahasa yang lembut.
Nabi Zakariatetap konsisten berdoa meskipun hajatnya belum dikabulkan oleh Allah. Dari sepenggal ayat diatas kita bisa sama-sama membaca bahwa caranya berdoa tuh sweet banget. Kalo kata Ust Heru, Nabi Zakaria saat  itu berdoa dengan Bahasa yang keras namun lembut. Paradoks ya? Iya, keras namun lembut. Maknanya adalah berdoa keras layaknya orang yang memiliki keinginan yang kuat, namun diungkapkan dengan cara yang lembut.
Jika menilik Tafsir yang ditulis oleh Ust. Marwan Hadidi bin Musa, dijelaskan bahwa Nabi Zakaria berdoa dengan santun. Diawali dengan menyebutkan asmaul husna yaitu “Maha Pengasih dan Maha Pemelihara”, kemudian dilanjutkan dengan mencurahkan keadaanya dan disambung dengan kalimat yang bernuansa positif yaitu berbaik sangka kepada Allah SWT. Meskipun doanya belum terkabul, namun Nabi Zakaria tetap beriman kepada Allah dengan mengucap “Namun, aku tidak pernah putus asa dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya tuhanku. Engkau adalah zat yang tidak pernah mengecewakan siapa pun”
Dari sini aku merasa sedikit tertampar.
Astaghfirullah aku! Bagaimana bisa doa-doaku diawali dengan keluhan, bukan dengan memuji sifat Allah terlebih dahulu.
Astaghfirullah aku! bagiamana bisa aku putus asa/protes jika doaku setahun yang lalu belum dikabulkan? Sedangkan Nabi Zakaria yang telah berdoa puluhan tahun masih taat kepada Allah.

Ibadah dulu baru minta sesuatu.
Manusia seringkali tidak memiliki pilihan pada kondisi-kondisi tertentu. Tentu saja kita, semua tidak boleh lupa bahwa takdir Allah sifatnya HAQ. Namun, manusia juga diberikan ultimatum untuk melakukan sesuatu untuk merubah takdir. Sebab takdir Allah ada dua yang kita kenal Qodho’ : Aturan/ ketetapan Allah, dan Qadhar: Ukuran/bergantung pada ikhtiar manusia. Ikhtiar manusia bisa dilakukan dengan do’a dan usaha. Jika mengingkan sesuatu, maka harus siap mengutamakan ibadah di 1/3 malam terakhir.
Dilansir dari muslim.or.id, bahwa Allah turun ke langit dunia ketika sepertiga malam terakhir.
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
”Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808)

Quotes dari Ust. Heru untuk menutup kajian adalah Awali tawakal dengan akal, akhiri tawakal tanpa akal. Ada korelasinya dengan poin ini, bahwasannya ketika menginginkan sesuatu maka hal pertama yang dilakukan adalah ikhtiar dulu. Caranya? Ibadah dan berusaha. Setelahnya baru menyerahkan segala sesuatu yang terjadi kemudian kepada Allah/tawakal. Diawali dengan akal maksudnya adalah ikhtiar yang dilakukan jangan sampai menghalalkan segala cara, namun harus ada rasionalisasi terhadap hal baik/buruk. Sedangkan diakhiri tanpa akal adalah pasrah terhadap hasil akhir yang ditetapkan oleh Allah.

Wallahu ‘alam,
Sekian, catatan ngaji kali ini.
Ditulis oleh aku yang lagi malam mingguan produktif di kamar aja,
Selfiana Hanafi.

Continue reading Self Improvement: Aku Belum Pernah Kecewa – Tadabbur Q.S Maryam (4)

Kamis, 26 September 2019

Self Improvement: Islam itu mudah "Masyaqqah Tajelibu Taesir– Qawaid Fiqh


Assalaamu'alaikum…
Hari ini aku kembali membuka catatan, tapi yang satu ini bukan catatan hasil ngaji melainkan catatan hasil baca tugas. Namanya Ustad Ardi, mahasiswa S2 jurusan Ahwal Al-Syakhsiyah UIN Malang. Beberapa bulan yang lalu, aku membaca sebuah artikel yang dikirimkan Ustad Ardi ke whatsapp-ku (semacam loker penitipan tugas). Untungnya, segala sesuatu yang dititipkan adalah hal yang sangat positif alias nambah pengetahuan meski setelahnya justru terlihat makin noob.
Aku nge-buka file tersebut, judulnya "Masyaqqah Tajelibu Taesir."
Masyaallah, ya jelaslah! Langsung menganga wkwkwk.
“Apa tuh? Artinya apaan? Maksudnya gimana?”
Pertanyaan mendasar seperti itulah yang muncul dalam otak miniku. Tanpa basa-basi, aku kemudian melanjutkan untuk membaca isi artikel tersebut. ~makin pengen tau dong, ada apa sih dengan judul artikel yang menggelitik itu?
Masyaqqah Tajelibu Taesir, Jika diartikan per-kata, maka memiliki arti seperti ini:
Masyaqqah: Kesulitan
Tajelibu: Mendatangkan
Taesir: Kemudahan
Kesulitan mendatangkan kemudahan? Sedikit paradoks memang, tapi yaa benar. Padahal masih baru tahu arti per-kata, tapi pikiran sotoyku berbondong-bondong menarik sebuah kesimpulan bahwa:
“Oalah iya, Islam adalah agama yang mudah.”
Di dunia yang fana ini, ternyata ada suatu kaidah yang dirumuskan oleh para ilmuan Islam agar kita bisa dengan mudah mengetahui sekian banyak hukum suatu permasalahan dalam kehidupan dengan cara yang lebih praktis, yaitu melalui kaidah-kaidah fiqh (Qawaid Fiqh). Nah, Masyaqqah Tajelibu Taesir merupakan salah satu cabang Qawaid Fiqh-nya. Simple nya, ini tuh semacam petunjuk yang dibuat oleh para ilmuan islam yang bersumber dari Al-Quranul Karim. Tujuannya agar setiap muslim tidak mengalami kesulitan untuk menjalankan kehidupan sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah SWT. 
Dalam menjalankan ibadah dan kehidupan sehari-hari, umat islam mengenal hukum keharusan/azimah yaitu wajib, sunnah, makruh, dan haram. Pada kondisi tertentu, Islam juga mengenal At-Taesir yang memiliki arti kemudahan atau juga sering dikenal dengan istilah rukhshah yang berarti keringanan.
Dari paragraf diatas, kita bisa mengambil benang bawang merah bahwa meskipun ada hukum keharusan, Islam memberikan keringanan pada kondisi dan sebab-sebab tertentu. Misalnya, yang semula haram bisa menjadi halal. Contohnya: makan daging babi saat keadaan terdesak.
Sebagaimana kaidah fikih pada umumnya, kaidah ini pun berlandaskan beberapa ayat dari Alquran. Allah Ta’ala berfirman,
وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ
“Dan sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kalian apa yang Dia haramkan, kecuali yang terpaksa kalian makan.” Q.S Al-An’am: 119.
Nah, pertanyaannya.
“Keadaan seperti apa saja yang semula terlarang menjadi diperbolehkan?”
Jujur saja, setiap selesai membaca satu lembar … rasanya tuh kayak makin banyak tanda tanya yang berisi pertanyaan-pertanyaan receh. Akhirnya yaa buka tutup google untuk cari tahu istilah-istilah tertentu huhuhuhu. ~Apalah aku yang baru anak kemarin sore :(
Tapi yaudah sih gapapa, lanjut aja bacanya. Meskipun anak kemarin sore, tapi semangatnya masih berapi-api kok wkwkwkw ~apasih
Balik ke topik,
Kesulitan terbagi menjadi dua jenis yaitu tidak ifrath (melampaui batas), dan tafrith (kurang dari batas). Jadi, jika dirasa kesulitan itu melampaui batasan maka keringanan bisa berlaku. Sedangkan tingkatannya terbagi menjadi tiga yaitu al-azimah (sangat berat), al-mutawasithah (menengah), dan al-khafifah (ringan). Keringanan dalam hal ini bisa berupa penghapusan, pengurangan, penggantian, didahulukan, diakhirkan, atau berubahnya cara yang dilakukan
Ada sebab-sebab berlakunya keringanan/rukhshah dalam cabang ilmu qawaid fiqh, yaitu (Djazuli, 2006):
  •  - النَّقْصُKekurangan bertindak hukum. Contohnya, anak kecil dan orang gila diperbolehkan untuk tidak melaksanakan rukun islam seperti sholat, zakat, puasa, dan naik haji.
  • Contoh lainnya, puasa Ramadhan hukumnya kan wajib. Namun, boleh tidak dilaksanakan apabila terdapat ‘udzur (halangan). Diantara ‘udzur sehingga mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa adalah orang yang sedang bepergian jauh (safar), sedang sakit, orang yang sudah berumur lanjut (tua renta) dan khusus bagi wanita apabila sedang dalam keadaan haidh, nifas, hamil atau menyusui (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/89, 118-127)
  • عُمُوْمُ اَلْبَلْوَى - Kesulitan yang Umum. Misalnya pada saat ada kejadian bencana alam. Kemungkinan akan banyak kotoran yang masuk ke dalam rumah atau air untuk bersuci menjadi kotor sehingga hal itu tidak bisa dihindarkan.
  • عُمُوْمُ اَلْبَلْوَى - Berpergian  dan اَلْمَرَضُ - Keadaan Sakit. Seperti kita tahu bahwa sholat lima waktu  hukumnya wajib. Nah, akan tetapi ada keringanan dalam hal tertentu. Misalnya sedang berpegian, atau terpaksa tidak bisa melaksanakan karena dalam keadaan sakit. Berpergian dan sakit kan juga ada tingkatannya. Kalau hanya berpergian ke pasar/belanja di Mall/nonton bioskop, masa iya sih mau ninggalin sholat? Aku rasa ngga oke banget kalo berpergian semacam itu dijadikan alasan untuk ninggalin sholat. Apalagi kalo cuman sakit panas/panu/kadas/kurap wkwkwkw. Tapi yaaa beda cerita jika kalian berpegian ke Turki dengan lama penerbangan lebih dari 15 jam, berada di puncak gunung, atau sakit kritis sampe nginep di ruang ICU. Seringkali aku sendiri juga menggunakan tiket keringanan ini. Misalnya ketika aku pergi luar kota menggunakan kereta dan memakan waktu perjalanan 14 jam. Tentu, aku akan memakai penggantian/ didahulukan/diakhirkan atau yang dikenal dengan jamak dan qasar sholat.
  • - اَلْاءِكْرَاهُKeadaan terpaksa. Yang dimaksud terpaksa adalah kondisi yang benar-benar darurat, bukan semata-mata praduga atau asumsi belaka. Keterpaksaan dalam hal ini diperbolehkan asalkan tidak melakukannya dengan melewati batas (sesuai dengan kebutuhan untuk menghilangkan mudarat). Seperti orang yang sangat kelaparan di tengah perjalanan. Diperbolehkan memakan bangkai hanya untuk sekedar menyambung hidupnya saja, tidak mengkonsumsinya hingga kenyang.
  • النِّسْيَانُ- Lupa. Contohnya seperti pada saat melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, kemudian lupa makan dan minum.
  •  اَلْجَهْلُ - Ketidaktahuan. Misalnya seperti seorang mualaf yang tidak bisa membaca bacaan sholat atau menjalankan usaha dengan riba.
Setelah mengetahui sebab-sebab berlakunya keringanan/rukhshah, maka berikutnya ada macam-macam kaidah tentang Masyaqqah Tajelibu Taesir:
  1. Apabila suatu perkara menjadi sempit maka hukumnya meluas. Contohnya seperti dokter laki-laki dan pasien (ibu yang akan melahirkan). Pada dasarnya memang laki-laki tidak boleh menyentuh perempuan yang bukan mahromnya. “Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahromnya” (HR. Tabrani). Akan tetapi, apabila di suatu daerah tersebut hanya ada satu orang dokter laki-laki yang bisa membantu proses persalinan, maka dokter laki-laki yang bukan mahromnya tersebut diperbolehkan menolong proses persalinan (boleh melihat dan menyentuh aurat pasien).
  2. Apabila suatu perkara menjadi luas maka hukumnya menyempit. Kaidah ini menunjukkan fleksibilitas Islam menghadapi suatu permasalahan dalam setiap keadaan. Pon kedua ini merupakan kebalikan dari poin nomer 1. Apabila di suatu daerah tersebut ada banyak dokter perempuan, maka dokter laki-laki tersebut tidak boleh menolong proses persalinan (tidak boleh melihat dan menyentuh aurat pasien).
  3. Apabila yang asli sukar dikerjakan maka berpindah kepada penggantinya. Pernah mendengar istilah subtitusi? Ya, subtitusi adalah melakukan penggantian suatu barang yang memiliki fungsi dengan sempurna. Misalnya, meminjam pakaian dengan merk tertentu kemudian hilang/rusak, maka harus diganti dengan pakaian yang memiliki merk yang sama. Contoh lainnya misalkan ketika musim kemarau tidak ada air, maka diperbolehkan bertayamum.
  4. Apa yang tidak mungkin menjaganya (menghindarkannya), maka hal itu dimaafkan. Misalnya seorang muslim bekerja di perusahaan umum, maka tidak menutup kemungkinan atasan atau rekan kerjanya  merupakan lawan jenis yang tidak berjilbab atau tidak menutup auratnya, maka hal semacam ini merupakan kondisi yang tidak bisa dihindarkan (disarankan untuk menjaga pandangan). Contoh lain, misalnya pergi kesekolah atau keluar kota menggunakan bis/kereta/ojek online. Pastinya, sangat mungkin kita duduk bersebalahan/berdekatan dengan lawan jenis. Hal ini tidak bisa dihindarakan untuk menjaga jarak sejauh 5 meter kan? Ya kecuali kalo satu bis kamu bayar untuk dirimu sendiri wkwkwk.
  5. Kemudahan (rukhsah) itu tidak boleh dihubungkan dengan kemaksiatan. Meskipun Islam mengenal keringanan dalam melaksanakan ibadah dalam kehidupan sehari-hari, akan tetapi masih ada kaidah yang mengatur agar kemudahan/keringanan ini tidak disalahgunakan untuk kejahatan atau berbuat dosa.  Menurut Dzajuli (2007), kaidah ini dikaitkan untuk menjaga kemudahan agar tidaka disalahgunakan untuk melakukan kegiatan maksiat. Contohnya, merampok orang untuk memenuhi kebutuhan pribadi, merasa haus kemudian minum khamr (padahal khamr tidak bisa menghilangkan dahaga). Hal semacam ini tidak dipandang sebagai orang yang menggunakan rukhsah, jadi masih tetap berdosa (apalagi sejak awal niatnya memang sudah tidak benar). Berbeda halnya dengan orang yang berpergian untuk urusan kebaikan. Misalnya dalam urusan kebaikan (usaha yang halal/menuntut ilmu/bersilaturahmi) mengalami kebahisan uang sehingga tidak bisa makan kecuali makanan yang diharamkan. Nah, hal ini diperbolehkan hanya dengan syarat untuk menghilangkan rasa laparnya saja (tidak berlebihan atau justru membahayakan dirinya sendiri).
  6. Apabila suatu kata sulit diartikan dengan arti yang sesungguhnya, maka kata tersebut berpindah artinya kepada arti kiasannya. Contohnya Pak Havi membeli apartemen atas nama dirinya, kemudian berwasiat jika ia meninggal maka kepemilikannya akan diberikan kepada istrinya. Namun, dalam waktu yang bersamaan sang istri juga meninggal, maka yang menjadi ahli waris/kepemilikannya berpindah ke anaknya dengan pembagian sesuai dengan kaidah fiqh yang membahas tentang waris. Sebab tidak mungkin mewariskan sesuatu kepada orang yang sudah meninggal dunia. Jadi, makna kiasan dalam hal ini adalah kepemilikan yang berpindah ke anaknya.
  7. Apabila sulit mengamalkan suatu perkataan, maka perkataan tersebut ditinggalkan. Contohnya (Zakarsyi, 2014), ada seseorang yang menuntut warisan dan mengaku bahwa dia merupakan saudara kandung dari Almarhum, padahal setelah diteliti ternyata Almarhum adalah orang yang hidup sebatang kara. Maka pernyataan orang tersebut tidak bisa diakui kebenarannya, dan boleh ditinggalkan.
  8. Bisa dimaafkan pada kelanjutan perbuatan dan tidak bisa dimaafkan pada permulaannya. Misalnya ingin membuka rekening tabungan, diawal harus ditentukan dulu apa akad menabungnya apakah menggunakan akad wadi’ah atau mudharabah. Setelah menentukan akad tabungan syariah diawal pembukaan rekening bank, maka berikutnya ketika menabung tidak perlu melakukan akad lagi. Contoh lainnya ada orang yang menyewa kontrakan rumah, maka orang tsb. diharuskan membayar uang muka oleh pemilik. Apabila sudah habis pada waktu kotrak dan dia ingin melanjutkan sewaan berikutnya, maka dia tidak perlu membayar uang muka lagi (tinggal lanjut bayar sesuai dengan yang disepakati).
  9. Dimaafkan pada permulaan tapi tidak dimaafkan pada kelanjutannya. Contohnya, ada orang yang baru masuk Islam dan tidak tahu bahwa transaksi riba, judi, berzinah atau minuman keras itu dilarang atau haram, maka orang tersebut dimaafkan untuk permulaannya karena ketidaktahuannya. Selanjutnya, setelah dia mengetahui bahwa judi, berzinah atau minuman keras hukumnya haram, maka ia harus menghentikan perbuatan haram tersebut.
  10. Dapat dimaafkan pada hal yang mengikuti dan tidak dimaafkan pada yang lainnya. Misalnya nih ada orang yang mewakafkan sebuah kebun apel. Objek yang di wakafkan adalah kebunnya, bukan apelnya. Apabila apel yang ditanam busuk, maka apel tersebut tidak boleh dianggap sebagai wakaf yang mengikuti kebun apel tsb.
Nah, begitulah sebab dan keadaan yang memperbolehkan adanya keringanan/rukhsah. Ketika aku membaca tugas ustad Ardi yang satu ini, aku jadi makin kagum dan bangga memeluk agama Islam. Auto mikir “Subhanallah banget yaa cara Allah ngertiin kita? Meskipun ada hukum ibadah WAJIB, masih ada aja gitu kemudahan dan kelonggaran yang diberikan kepada hambanya yang lemah macam aku ni.”
Baiklah, sampai sini dulu. Harapannya setelah membaca ini, temen-temen makin bersemangat untuk terus PDKT sama Allah. Intinya, nulis ginian tuh cuman ngingetin diri sendiri jugak wkwkwk supaya ngga mudah mengeluh dan banyak bersyukur. Sekiranya ada kegiatan yang bisa meningkatkan semangat beribadah, yaaaa kenapa ngga dilakukan? Yaa ngga sih?
 والله أعلمُ بالـصـواب
Wassalaamu’alaikum.

~ditulis oleh aku yang ter-choice sebagai tempat penitipan :v
Selfiana Hanafi.

Referensi:
Al-Quranul Karim
A.Djazuli. 2006. Kaidah-kaidah Fikih, Kaidah-kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan Masalah-masalah yang Praktis Edisi Pertama, Jakarta : Prenadamedia Group.

A.Djazuli. 2007. Kaidah-kaidah Fikih, Kaidah-kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan Masalah-masalah yang Praktis Edisi Kedua, Jakarta : Kencana.
  
Continue reading Self Improvement: Islam itu mudah "Masyaqqah Tajelibu Taesir– Qawaid Fiqh

Senin, 16 September 2019

Self Improvement: Perempuan 3 Dekade


Assalaamu’alaikum…

Kemarin, Ahad 15 Muharram 1441 (Minggu, 15 September 2019) aku mengikuti kajian muslimah. Sebelumnya aku sudah membuat polling ala-ala. Alhamdulillah, aku seneeeeng banget karena dari 1.2k followers di akun instagramku, ada sekitar 90 orang yang ikut voted (laki-laki dan perempuan). Terimakasih untuk 90 orang yang merespon polling secara aktif. Semoga Allah selalu menjaga semangatmu untuk menimba ilmu ~eaaak.
Apakah kamu salah satunya yang voted agar aku nulis hasil kajianku pagi ini di blog?
Selamat! aku akhirnya nulis di blog hehehe. Seneng juga karena banyak yang voted supaya aku nulis di blog. Ini pertanda bahwa minat baca teman-temanku tinggi-tinggi setinggi gunung Himalaya dan semeru yang ada di puncak jawa wkwkwk. Sebenernya aku juga lebih nyaman nge-blog (nyaman is namber wan), soalnya kalo di blog aku lebih leluasa untuk menjlentrehkan apapun. Otomatis info yang teman-teman dapatkan juga ngga setengah-setengah. Totalitas tanpa batas ~Hilih.
Alasan nulis ginian tidak lain karena aku sadar bahwa “Kita semua tidak bisa menjadi baik seorang diri”. Aku membutuhkan teman-teman supaya apa yang aku pelajari, apa yang aku tulis, dan apa yang aku dengar bisa menjadi butiran pahala. Yang mungkin itu bakal disukai sama Allah ta’ala sehingga bisa menarikku ke surga. Untuk tulisan, aku menjelaskannya sesuai dengan apa yang aku dengar dan apa yang aku catat. Semoga kalian berkenan membaca hingga akhir ben ndak salah paham dong.
Selain materinya bagus bangeettt, kayaknya ngga adil aja gitu kalo cuman aku yang tahu. Semoga ini bisa menjadi komitmenku untuk aktif hadir di kajian dan langsung menuliskannya agar bisa bermanfaat ke lebih banyak orang. ~Aamiin.
Kajian hari ini ngebahas soal wanita dalam 3 dekade. Meanwhile, wanita emang selalu menarik. Bukan karena keribetan dandannya yaaa. Akan tetapi lebih kepada bagaimana istimewanya Islam menghargai seorang perempuan. Bahkan Rasulullah SAW pernah menjawab 3 kali untuk menghormati seorang ibu barulah yang keempat adalah bapak wkwkwk. Aku juga bersyukur ketika yang voted juga ada yang cowok, soalnya menurutku ini juga penting diketahui oleh para kaum Adam. ~Adamsari
Berikut materinya …
DEKADE PERTAMA (10 tahun pertama dalam hidup)
Dekade pertama merupakan pondasi untuk dekade berikutnya. Oleh karena itu, masa 10 tahun pertama bisa dibilang “yang terpenting” untuk membentuk bagaimana kamu kedepannya. Ga salah jika ada istilah yang mengatakan bahwa karakter anak itu harus dibentuk sejak golden age (0-5 tahun). Bahkan, dalam Islam dikatakan bahwa kepribadian seorang anak itu sudah terkonsepsi sejak kita memilih pasangan. Kaget kan? Ya! Aku jugak btw.
Bayangin, kepribadian anak kita sudah terkonsep sejak kita milih pasangan. Lhaa kalo pasangan awut-awutan kan kasian dong konsep kepribadian anak kita kelak? Huwwww. Makanya aku merumuskan sebuah quote “Simpan baik-baik hatimu, karena dia belum tentu jodohmu” hahaha bijaksana mendadak. ~oposiiiii :D
Lanjut!
 Di 10 tahun pertama, tiap orang akan mengalami beberapa fase perkembangan:
Fase Pembentukan Kepribadian
Dalam hal ini, sesungguhnya manusia baik pria/wanita masih dalam kondisi fitrah/suci/islam. Artinya, manusia masih lemah/ketergantungan dengan orangtuanya. Kalo kata orang jawa “Opo jare wong tuwo”. Contohnya: masuk sekolah PAUD-TK, pasti dipilihin sama orangtua. Begitu pula dengan tempat ngaji atau kegiatan lain yang diikuti. Semua masih tergantung dari pola asuh orang tuanya. Rada’ otonom sih, tapi memang begitulah adanya. Masa iya TK udah milih sendiri mau TK di singapurrrr gitu? Kan yaa ndak. Manut, pilihan orangtua~
Pada fase ini, anak sudah seharusnya dikenalkan dengan nilai-nilai keislaman. Mulai dari mengenalkan cinta kepada Allah dan Rasulullah SAW, mengajarkan doa-doa harian, menjelaskan mengapa wanita dalam islam harus berjilbab, dikenalkan dengan hukum islam, fiqh muamalah, dan fiqh wanita. Misalnya, mulai dikenalkan apa itu hadas kecil dan hadas besar, apa itu najis, bagaimana cara bersuci yang benar, dsb. Sehingga ketika memasuki masa baligh, anak tidak lagi mengalami kesulitan dalam melaksanakan ibadah. Pokonya mulai dipahamkan dengan norma-norma sosial dan moral ~Mantap betul.
Fase mengembangkan segala potensi
Seorang anak sudah selayaknya diberikan kebebasan berekspresi, namun tetap harus diberikan contoh dan arahan yang baik. Misalnya terkait dengan pemenuhan kebutuhan. Kelak jika menjadi orang tua, maka pada dekade pertama orang tua harus mengupayakan untuk memberikan pemenuhan kebutuhan yang baik. Kebutuhan yaaa, bukan keinginan. Alangkah baiknya jika semua kebutuhan tersebut dihubungkan dengan sesuatu yang mendekatkan pada Allah SWT. Contohnya: membelikan buku bacaan. Nah bisa toh dibelikan buku bacaan tentang mengenal para sahabat Rasulullah SAW, kisah nabi, atau apapun yang mendekatkan IMTAQ anak. Atau bisa membelikan MP3 yang berisi asmaul husna, murottal, sholawat, dan lain-lain. Infonya, Indonesia merupakan negara yang memiliki hafidz cilik terbanyak di dunia. (Arab-pun kalah gess). Kan yaa Subhanallah kalo keturunan kita kelak bisa dibentuk dengan pribadi yang se-Masyaallah begitu.
Kok ribet banget sih? Kenapa kudu gitu?
Ya, karena pada fase ini anak akan bisa belajar dengan cepat (cenderung mudah menirukan orang-orang di sekitarnya). Anak-anak memang se-badai itu, mereka bisa belajar/mengidentifikasi banyak hal dengan cepat. Kadang suka banget menanyakan hal-hal yang receh. Misalnya: Kenapa kok batu warnanya hitam dan keras? Rumah itu apa? Kenapa itu disebut pohon? Kenapa xxx adek (perempuan), dan punya kakak (laki-laki) berbeda bentuk? Kenapa gula rasanya manis? Kenapa kalo jatuh kok sakit? Adek bayi lahirnya darimana? dan pertanyaan gokil lainnya.
Jika kamu menjadi orang tua yang malpraktik/ngga siap pasti kamu akan menjawab
“Ssssttt, jangan banyak tanya! Besok kalo udah gede tau sendiri!” atau justru “Hus, nanyak apa ae seh? Nggak ilok!”
Nah, jawaban semacam itu tidak benar. Bahkan akan melukai hati seorang anak. Kita semua harus paham bahwa di fase ini anak-anak memang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Yang mereka butuhkan adalah jawaban yang CEPAT, TEPAT, dan ILMIAH. Jangan memberikan contoh yang aneh-aneh. Ingat! CEPAT, TEPAT, dan ILMIAH. Jika belum siap, akan lebih bijak jika disiapkan dari sekarang. Soalnya, bahaya juga kalo anak justru tanya/mencari jawaban ke orang lain, padahal kemungkinan besar jawabannya melenceng/ndak sesuai.
 Contoh yang salah 1:
Ada ibu-ibu yang perfeksionis banget dan jaim nya tuh luar biasa masyaallah wkwkwk. Ketika ibu itu lagi arisan, sang anaknya ngomong “Ma, aku kebelet pipis”. Nah, anak itu dimarahi “Kamu kalo mau pipis jangan bilang gitu, nggak sopan!”. Sang anak diminta “Kalo kebelet pipis bilang aja, Ma! adek pengen nyanyi”.
Suatu ketika di acara arisan lainnya anak tsb kebelet pipis dan bilang mau nyanyi. It’s okay ibunya paham. Tapi di waktu yang lain, in case sang anak nginep di rumah neneknya. Malem-malem kebelet pipis dan bilang “Nek, aku pengen nyanyi”. Yaaa kali, nenek nya bingung, masa iya malem-malem mau nyanyi? Trus dijawab sama neneknya “Jangan nyanyi malam-malam Nak, sekarang waktunya tidur”. Anak itu ngejawab “Aku pokonya mau nyanyi sekarang Nek”. Trus neneknya pasrah “Yaudah sini nyanyi pelan-pelan di telinga nenek”.
Can you imagine what’s happened next?
Contoh yang salah 2:
Kenapa xxx adek (perempuan), dan punya kakak (laki-laki) berbeda bentuk?
Jawaban tidak tepat (umumnya): Iya, soalnya kalo punya kakak itu burung, kalo punya adek itu bulan.
Nahhh jawaban semacam ini ngga edukatif banget. Mungkin pinginnya ngasih analogi yang terkesan sopan, tapi kalo begini justru ngga tepat. Lah trus, gimana nge-jelasinnya?
Ya memang semua ini butuh belajar. Intuisi untuk memilih bahasa yang ilmiah itu butuh kebiasaan, ndak bisa suddenly bagai lampu yang menyala diatas kepala. Semuanya perlu pembiasaan diri.
Jawaban lebih tepat: Iya Nak, kalo punya kakak sama seperti Ayah karena kakak kan laki-laki. Kalo adek sama seperti ibu soalnya adek perempuan. Keduanya itu aurat Nak. Kalo disebut aurat, berarti harus ditutup, dilindungi, dan dijaga.  
Gimana? Lebih logis kan? Ini juga lebih konkret. Poinnya ada pada CEPAT, TEPAT, dan ILMIAH. Sekiranya itu sederhana, edukatif, dan mudah dimengerti oleh anak-anak.
Fase Identifikasi Diri
Dalam fase ini, anak membutuhkan figure yang lengkap dan teladan yang baik. Sadari bahwa “Anak sering meniru perilaku orang dewasa”. Mulai dari tutur kata, kebiasaan, dan pola pikir. Sebagai madrasah pertama bagi anak-anak, wanita harus belajar sedini mungkin untuk bertutur kata yang baik, membiasakan diri untuk melakukan aktivitas yang baik, dan berpikir terbuka sesuai dengan perkembangan jaman (no kaku-kaku kleb). Namanya figure yang lengkap, maka tidak hanya wanita saja, akan tetapi juga laki-laki memiliki peran yang sama pentingnya dalam mengidentifikasi diri anak. That’s why I said, kalo materi kajian ini bisa dibaca semua kalangan baik pria atau wanita wkwkwk.
Fyi. Di Al-Qur’an ada 17 ayat yang membahas tentang parenting. Lebih dominan bahwa Pendidikan itu yang memberikan Ayah, Ibu, dan kolaborasi keduanya. Next time aku mau juga nulis ginian. Insyaallah.
DEKADE KEDUA (10 tahun kedua)
Aku yakin, kalian yang membaca tulisan ini sedang berada di dekade kedua alias usia 20-an. Nah, dalam 10 tahun kedua seharusnya sudah:
Bisa memasuki usia baligh: sudah bisa membedakan mana yang baik untuk dirinya dan masa depannya, sudah harus bisa mengambil keputusan terbaik untuk hidupnya. Contoh: mau kuliah dimana, jurusan apa, besok kerja apa, trus hobi yang perlu dikembangkan apa, dll.
Belajar menjalankan tugas: sudah mulai menyadari tanggung jawab sebagai anak. Contoh sederhananya yaa nyuci baju sendiri. Trus yaa segala sesuatu yang berhubungan dengan diri sendiri sudah bisa mulai handle (No menye-menye kleb).
Mulai memahami hukum-hukum syariat, sosial, dan kemasyarakatan: Kalo pas dekade pertama masih dikenalkan oleh orang tua, maka pada dekade kedua tinggal memperdalam lagi. Sekiranya apa yang masih belum tahu yaa dicari tahu sendiri. Dengan syarat, tidak keluar dari jalur. Misalnya bisa membaca buku-buku, mengikuti kajian Muslimah ODOJ (One day one juz) Surabaya wkwkwk, atau bisa juga dari tausyiah-tausyiah. Intinya, ketika belajar (apapun) wajib menyalakan filter. Harus bener-bener menyaring informasi yang diperoleh. Artinya, sudah sangat tidak usum menerima seluruh informasi secara mentah-mentah tanpa mengkaji. Jadi harus pandai mengolah informasi, kalo sekiranya ngga cocok dengan apa yang kita yakini (Al-Qur’an dan hadits) yaa disikapi dengan bijaksana aja (santuy, ngga usa nge-gas). Pokonya harus seimbang antara belajar agama, sosial, dan kemasyarakatan. Kalo kata anak akuntansi mah “Everything should be balance”.
Membentuk peer group: Minimal punya lingkungan yang baik dulu. Pada dasarnya segala sesuatu yang terjadi balik lagi ke-manusianya. Kadang pola asuhnya udah bener, lingkungan keluarga udah oke, tapi lingkungannya ngga mendukung.
Boleh banget berteman dengan siapapun dengan latar belakang apapaun. Yang tidak boleh itu sampe katut-katutan wkwkwk atau mudah terpengaruh. Kalo pondasinya kuat yaa ga masalah. Mau berteman dengan siapapun? yaa oke aja. Tapi kalo pondasinya belum kuat, mending main aman aja. Caranya gimana? Bentuk positive circumstance. Katanya, teman/pasangan yang baik itu adalah yang bisa mendekatkan ketaatan kita pada Allah. Kalo semakin menjauhkan, wahh tanda tanya tuh (Yakin itu yang terbaik?)
Kalo aku pribadi tipe orang yang suka berteman dengan siapapun. Semacam prinsip ala-ala kali ya? “Siapapun adalah guru dan dimanapun adalah sekolah”. Tapi yaa begitu, ada tingkatan dalam berteman. Ngga semuanya bisa akses privasi, artinya yaa tetep membatasi diri pada hal-hal yang dianggap wajar dan tidak wajar. Itu semua relatif yaa, setiap orang punya standar pertemanan yang berbeda-beda. Sejauh masih positif yaa harusnya ngga ada masalah.
DEKADE KETIGA (10 tahun ketiga)
 “Duh, gaenak yaa jadi perempuan? Enakan jadi laki-laki. Perempuan tuh ribet! Belum lagi tiap bulan harus ngalamin sakit karena haid. Ntar kalo sudah menikah juga buanyaakk banget kerjaannya (mulai dari bersih-bersih, masak, ngurus, anak, dll. Belum lagi kalo jadi wanita karir), trus kalo abis ngelahirin juga sakit semua. Duh! Enakan jadi laki-laki. Sakitnya cuman sekali pas khitan.”
Pernah ngga sih denger/sempat kepikiran hal semacam itu? Hahaha jujur aja, aku dulu pernah berpikir betapa melelahkannya menjadi perempuan. Tapi, keluhan itu sudah terjawab ketika aku duduk di bangku SMK. Pasalnya, Ibuku tercinta memberikan aku pengarahan betapa mulianya seorang wanita (waktu itu diceritain tentang surah Maryam). Ditambah lagi kajian hari ini yang membuatku sangat amat bersyukur lahir sebagai anak perempuan hihihi.
Sama dengan prinsip investasi “HIGH RISK HIGH RETURN”. Pasti kalian sudah tidak asing dengan statement yang menjelaskan bahwa yang paling mudah masuk kedalam surganya Allah adalah WANITA, akan tetapi yang paling banyak masuk neraka juga WANITA.
Menjadi seorang wanita emang susah, terlebih karena ngga ada kampus yang menyediakan fakultas istri dan jurusan menjadi ibu yang baik wkwkwkw. Maka dari itu, kita diminta untuk mentadaburi (belajar memahami) isi Al-Quran. Caranya gimana? Bisa belajar bareng, baca sendiri buku tafsir, atau ikut ngaji tafsir.
 Dibalik susah pasti ada mudah, dibaliknya lagi pasti ada istimewa ~apaan se???????? wkwkwkw
Berikut adalah Istimewanya wanita dalam islam. Al-hadits:
“Dunia adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan adalah WANITA SHOLIHAH”
Ingat juga bahwa di dalam surah An-Nur ayat 32 ada beberapa kriteria perempuan idaman:
Kalo milih wajah? Yaa lambat laun akan menua/buruk. Kecuali biaya perawatannya masuk RAB-RT. Kalo milih  harta? Yaa bisa jatuh miskin. Kalo milih nasab/keturunan? Someday juga bakal ada aja aib-aib yang terbongkar. Nahhhh, sebaik-baiknya kriteria adalah yang baik agamanya.
Trus Gimana? Sudah sejauh mana usaha menjadi perhiasan? masih on going yaa? Semangat!
Suka perhiasan mah boleh aja, tapi sadarilah bahwa sesungguhnya perhiasaan itu yaa diri kita sendiri. Kalo ngga salah, itu tuh namanya inner byuti :D tanpa skinker yang ngebuat glowing-pun, kalo sholihah auranya tetep terpancar wkwkwkw. Never stop learning.
“Doa wanita lebih makbul daripada pria. Ibu (wanita) lebih penyayang daripada ayah (pria) dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia”
Jangan sia-siakan hari tanpa doa. Yok melangitkan doa setiap saat, karena kita juga ndak akan pernah tahu doa yang mana yang akan diijabah oleh Allah SWT.
Surga dibawah telapak kaki Ibu. Tanya sahabat kepada Nabi “Kepada siapa aku harus berbakti terlebih dahulu ya Rasul?” Jawab Nabi “Ibumu”. Bertanya lagi sahabat tersebut, dan dijawab oleh nabi “Ibumu”. Bertanya sekali lagi, dijawab lagi “Ibumu”
Jika perempuan menikah, maka surganya bukan lagi Ibu melainkan ridho suami. Namun, jika laki-laki menikah, maka sampai kapanpun surganya adalah Ibundanya. Kadang aku juga bingung, kenapa ada istilah menantu bersaing dengan mertua perempuan? Sampe kebacut ada taneman yang Namanya lidah mertua (dah gitu daunnya luwincip-lincip gitu wkwkwkw). Mungkinkah ini terjadi karena minimnya kesadaran? Ya, kesadaran bahwa Ibu dari laki-laki sudah membesarkan puteranya dari kecil sampai dewasa. Tidak hanya itu, tapi juga sudah sampai sarjana atau bahkan sudah mapan, namun dengan siapa laki-laki tersebut menghabiskan sisa waktunya? Ya! Tidak lain adalah bersama dengan kita (para wanita).
Loh, tapi kan aku juga dibesarin sama ibuku dari kecil? tapi kenapa surgaku pindah ke ridho suami? Baca ini dah, aku ngutip langsung dari Muslim.or.id
Ada hadits dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Kuncinya cuman taat (tapi ini yaa ngga mudah. Butuh sabar dan syukur). Taat yang dimaksud yaa taat untuk hal-hal kebaikan yaa, kalo disuruh bom bunuh diri kayak yang di tipi tipi yaaa jangan dong. Taulah yaa kalo itu banyak mudharatnya. Big No! “Sesungguhnya ketaatan hanya pada perkara yang baik”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Kalo ini dari Muslimah.or.id Semua khidmat istri kepada suami merupakan amalan pembuka kebahagiaan abadi. Selayaknya kaum wanita gembira menyambut janji Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا؛ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَائَتْ
“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktu, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, niscaya dia akan masuk surga dari pintu-pintu surga yang dia sukai.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya no. 1661, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 4151, dihasankan al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 1931)
Kalo Allah yang janji? Udah pasti benar! Jadi yasudah, mau apa lagi kalo ndak BERIMAN?
Bersahabatlah dengan ibu mertua wkwkwk padahal juga I don’t really know how it’s feel like. Yaa teorinya begitu, tinggal prakteknya aja ntar gimana. Yang penting paham dulu.  Kalo ngga paham trus ujuk-ujuk praktek kok yaa nanti jadinya malpraktik. ~Hilih.
Sebenernya, menurutku kurang kena’ sih di pembahasan dekade ketiga ini (dikarenakan waktu yang terbatas). Jadi, aku cuman bisa njelasin segini dulu. Tadi sempet ada pertanyaan, karena pertanyaannya berbobot bolehlah kutulis disini sekalian.
QNA
Pertanyaan 1: Udah nikah 7 bulan, tapi banyak hal yang ngga cocok kayak ada perasaan “Loh, kok gini?” mungkin yang dimaksud lebih kepada banyak hal yang ngga sesuai dengan ekspektasinya.
Jawaban ustadzah: Tidak akan pernah bisa cocok 100% karena memang menikah itu menyatukan dua orang yang sangat berbeda (pola asuh, pemikiran, kebiasaan, latar belakang dll.). Ustadzah sendiri sudah 30 tahun usia pernikahan  yaa masih terus menyesuaikan diri. Terus melakukan PDKT karena manusia itu mudah berubah.
Tambahan dariku: Dulu pas aku ikut kajian apaa dah lupa Namanya wkwkwk. Itu dibilang kalo menikah itu ndak boleh berkeskpektasi. Makanya, paradigma punya kehidupan rumah tangga bak drama korea harus dihilangkan jauh-jauh. Yang perlu diperhatikan hanya stok sabar yang unlimited. Ketika muncul tanda-tanda berkurangnya tingkat kualitas dan kuantitas ketaatan seorang istri kepada suaminya, maka yang perlu dilakukan adalah mempererat kesabaran dan mengedepankan rasa syukur. Mengelola emosi dengan bijak serta menahan diri dari perkara-perkara yang dibenci. Wkwkwkw ~Asli sotoy.
 Pertanyaan 2: Kalo ibu lagi sakit, mana yang harus diproritaskan? Anak-anak? Suami? Atau Ibu?
Jawaban Ustadzah (seingetku): Semuanya adalah prioritas. Jadi kalo Ibu anda sakit, yaa ajak anak-anak untuk ikut merawat neneknya (mungkin sedikit ribet), tapi disitulah nilainya. Sembari merawat ibu yang sakit, sambil mengajarkan kepada anak-anak bagaimana kelak jika mereka sudah menikah dan anda yang sakit. Ajak mereka untuk peduli, didik melalui tindakan yang nyata. Jangan lupa minta ijin suami. Bikin MOU diawal pernikahan untuk hal-hal semacam ini.
Alhamdulillaaaaaaaaaaah, ya allah ini first time aku datang kajian dan langsung nulis Panjang lebar begini. Kayaknya ini juga bakal jadi postingan terpanjang yang pernah aku tulis di blog wkwkwk. Monmaap jika ada salah-salah kata/typo/kurang mantul dihati teman-teman sekalian. Semoga berfaedah. Kedepannya, jangan hanya baca yaa, kalo bisa ikutan sekalian biar punya positive circumstance. Terimakasih sudah berkenan membaca.
Wassalaa’mualaikum… 
Ditulis olehku, wabil khusus untuk teman-teman yang haus ilmu tapi berhalangan hadir ke kajian.
~Selfiana Hanafi.
Big thanks to ODOJ Surabaya for invited
Speaker: Ustadzah Andham Asih (Direktur Al Uswah Surabaya, & Narasumber “Embun Pagi” JTV)
Location: Masjid Baitul Haq Kejaksaan, Surabaya.

Continue reading Self Improvement: Perempuan 3 Dekade