Jumat, 06 September 2019

Self Edu: Tahapan Mengajukan Proposal Pendanaan Untuk Final Lomba Nasional

Assalaamu'alaikum .....
Postingan ini aku tulis setelah ada salah seorang adik tingkat yang menghubungiku melalui DM. Namanya adalah dek @wahyumulyasari. Tanpa basa-basi, dia memintaku untuk mengirimkan contoh proposal pengajuan dana dan mengatakan bahwa minggu depan dia akan mengikuti final lomba esai nasional di Jember.
Singkat cerita, dia kenal aku lewat akun ig official kampus trus kami saling follow. Jadi, kita bener-bener ngga pernah bertemu sebelumnya. Hanya saja, sesekali dia menyapaku dan memberikan komentar tentang story yang aku buat di Instagram ~maklum, tukang nyepam story aku mah wkwkwk. Untuk ukuran kakak-adik online yang belum pernah bertemu sama sekali, Masyaallah! Aku auto ngerasa seneng ketika berkesempatan membantunya dan mengoreksi karyanya.
Sabtu sore, dek wahyu mengirimkan DM yang menyatakan bahwa dia sedang merasa kebingungan. Yap! Dia bingung gimana caranya ngajuin proposal pendanaan lomba ke pihak Fakultas. Sungguh! Aku semacam melihat diriku yang dulu wkwkwkw (soalnya aku dulu pernah bangetttt mengalami kebingungan semacam ini). Rasanya ayam nelongso kalo ngga ada yang bisa ditanyain/diajak sharing. Dalam hal ini, aku sedikit mengerti tentang apa yang dia butuhkan ~ceilahh.
Sebelum memberikan softfile proposal yang dia minta, aku terlebih dahulu mengajukan dua pertanyaan padanya. Pertama, seperti apa jenis lomba yang dia ikuti? (Fyi. tidak semua lomba bisa mendapatkan sponsor/pendanaan dari pihak fakultas). Kedua, karya apa yang sudah dia buat? (Hal ini menjadi penting bagiku, mengingat aku belum pernah lolos menembus final lomba esai wkwkwk ~maklum tukang gagal).
Setelah aku membaca dan memeriksa surat yang menyatakan bahwa dia lolos final, aku mulai yakin bahwa dia bisa banget dapet pendanaan dari kampus.
From my own mine, jenis lomba yang bisa didanai oleh kampus adalah lomba ilmiah yang diadakan oleh institusi resmi seperti yang diadakan oleh kampus/pemerintah. Kenapa aku bisa bilang begitu? Simak cerita dibawah ini:
Tahun 2015, aku pernah lolos lomba esai yang diadakan oleh salah satu NGO (Non-Government Organization) di Indonesia. Kalau tidak salah, saat itu esai yang aku buat terpilih menjadi salah satu dari ±3.500 esai. Akan tetapi, aku tidak mendapatkan support apapun dari pihak kampus. Hasilnya ZONK nemen. Dari situ aku mulai menyimpulkan bahwa memang ada regulasi tertentu dari pihak kampus (sayangnya aku tidak tahu regulasi yang berlaku saat itu seperti apa hehehe ~yaudahlah life must go on). Jadi yaa, memang ngga semua lomba bisa dapet pendanaan :)
Kembali ke topik.
Untuk meminimalisir kesalahpahaman, sore harinya aku meluangkan waktu untuk berbincang dengannya via telepon dengan satu syarat. Syaratnya adalah wajib sholat ashar terlebih dahulu.
Setelah selesai sholat ashar, dek wahyu menelfonku dan menanyakan banyak hal (durasinya tercatat  satu jam setengah wkwkwkw kita banyak berbincang tentang alur pengajuan pendanaan, tips presentasi saat lomba, persiapan lomba, meminta review karya, dan berkeluh-kesah tentang penulisan karya ~semoga bisa menjadi obrolan yang memberikan manfaat yaaa ~Aamiin).
Meskipun selama kuliah aku hanya berhasil menembus lomba nasional beberapa kali saja (masih sangat bisa dihitung jari dan terkesan ngga layak nulis ginian) aku cuman berharap semoga tulisan ini bisa jadi pembelajaran juga bagi teman-teman lainnya. Gimanapun, aku sudah memutuskan untuk berbagi sedikit informasi ini. Semoga bisa membantu siapapun yang nantinya akan terbantu wkwkwk ~apasih. 
Perlu diketahui bahwa setiap institusi pendidikan memiliki regulasi yang berbeda-beda (terlebih tentang hal-hal yang berkaitan erat dengan uang/pendanaan). Jadi, tidak semua poin yang aku tuliskan disini bakal efektif untuk kalian yang berbeda kampus denganku dulu (yang satu kampus aja mungkin banget ada perbedaan regulasi apalagi yang beda kampus ya kan?).
1.       Memastikan jenis lomba
Kamu harus pastikan dulu bahwa lomba yang kamu ikuti memang bisa dapet support dana dari kampus. Gimana cara taunya? Bisa nanya ke bagian kemahasiswaan fakultas masing-masing atau nanyak ke kakak tingkat yang sebelumnya memang sering ikut lomba. Fyi, kampus tidak akan mengganti biaya pendaftaran awal. Yang dibiayai adalah biaya setelah masuk seleksi final 10 besar atau 5 besar lomba tingkat nasional.
2.       Siapkan Administrasi yang dibutuhkan
Jika memang lomba yang kamu ikuti sudah sesuai regulasi kampus, berikutnya langsung saja tanya apa saja yang dibutuhkan. Kalo di kampusku (khususnya fakultas ekonomi) kami selalu diminta untuk membuat:
·      Surat permohonan pengajuan dana dan dispensasi yang ditujukan ke WD II
·      Proposal, dan rincian anggaran dana
·      Lampiran Karyamu
·      Bukti bahwa kamu lolos final
·      Rincian biaya registrasi finalis yang sudah dirincikan oleh pihak panitia.
3.       Jujur
“Sesungguhnya kejujuran akan menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan mengantarkan ke surga. Seseorang yang berbuat jujur oleh Allah akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya bohong itu akan menunjukkan kepada kezaliman, dan kezaliman itu akan mengantarkan ke arah neraka”. (HR Bukhar muslim).
Ketika menyusun anggaran dana, jauhkan pikiranmu dari kata mbati/nge-mark-up biaya/mengambil keuntungan pribadi. Duh, plisss lah! jangan menanam benih-benih koruptor pada diri sendiri yaaa. Toh, pihak Fakultas umumnya berkenan membiayai semua akomodasi dan biaya daftar ulang sebagai finalis kok, termasuk makan berat, makan ringan, penginapan, dll. (yang sudah ditentukan oleh panitia lomba). So, be honest! 
Untuk akomodasi kereta api, kalian bisa cek harganya di aplikasi android KAI ACCESS. Kalo emang situasinya ngga memungkinkan untuk naik kereta yaa boleh pake pesawat, kalian bisa cek harganya di tiket.com atau traveloka (cari yang murah aja yang penting bisa sampe tempat dan fight untuk lomba). Menurut pengalaman pribadi, seluruh anggaran dana yang aku ajukan tidak ada yang dikurangi. Seluruhnya dapet ACC dan bisa cair tepat pada H-1 sebelum keberangkatan final. Alhamdulillah~ (Literally, pas lomba ngga keluar uang sepeserpun hihihihi).
4.       Ikuti alurnya dan Minta restu kedua orangtua
Sudah pasti! jika kalian memiliki niat untuk mengajukan pendanaan (untuk mengikuti lomba), maka kalian akan dihadapkan pada birokrasi yang kadang terkesan mbulet bin ruwet bin mumet-mumet wkwkwk. Bersabarlah, anggap saja ini adalah proses latihan mental dan manajemen waktu. Untuk anak FE-UM, kalo kalian bermaksud mengajukan dana dan ingin cair sebelum keberangkatan, maka hal pertama yang kamu lakukan adalah membuat timeline. Aku dulu lumayan mepet yaaa, dari pengumuman final ke hari keberangkatan hanya berjarak 5 hari aja. Jadi bener-bener atur waktu antara jam kuliah, tugas kuliah, persiapan lomba, dan administrasi pengajuan dana ke pihak kampus. Wajib banget bagiku untuk bikin timeline biar ngga keteteran.

Biasanya aku ngga pake checklist karena lebih suka dicoret-coret gitu. Jadi, kesannya biar keliatan progressnya sampe mana wkwkwk. 
Oiya! Sebelum mengawali hari, jangan lupa meminta doa pada kedua orangtua agar langkahmu selalu dimudahkan. Ini penting banget sih menurutku hihihi.
5.       Selamat berjuang: One Step Closer
Jika sudah pada tahap pencairan dana, rasanya sedikit beban sudah mulai bekurang ya? Wkwkwk. Apakah perjuangan ini selesai? Tentu saja belum.
Berikutnya, maksimalkan waktu yang ada untuk berlatih. Berlatih untuk apa? Tentu saja untuk mempresentasikan hasil karya yang sudah kamu buat. Minta orang lain mendengarmu dan tanyakan apakah ia paham atas penjelasan yang kamu berikan. Ingat! Waktu presentasi dalam lomba itu sangat singkat. Biasanya waktu yang diberikan hanya 10 menit (5 menit presentasi dan 5 menit tanya jawab) malah ada yang diberi waktu 7 menit (2 menit presentasi dan 5 menit tanya jawab wkwkwkw bayangkan dalam 2 menit kamu harus memahamkan dewan juri atas karyamu). Inilah tantangan sebuah perlombaan, kamu akan diminta menyampaikan isi karyamu dalam waktu yang sangat terbatas. Kuncinya? Latihan-latihan-latihan.

In case, perubahan struktur di kampus pasti memberikan pengaruh pada perubahan regulasinya. Jika aku dulu bisa mendapatkan pencairan dana H-1 dan itu dicairkan keseluruhan, maka hal ini berbeda dengan dek wahyu. Kemarin dia sudah berangkat menuju Jember. Berdasarkan kabar yang aku terima, dana yang dicairkan oleh bagian keuangan hanya ½ saja, sedangkan sisanya akan di-reimbers atau diganti ketika laporan pertanggung jawaban (LPJ) selesai disusun. 
Intinya balik ke regulasi kampus. Yang terpenting, jangan malu bertanya (tapi sebelum bertanya usahakan cari tau dulu. Jadi pas nanya biar ngga yang bener-bener kosong alias ga punya info apa-apa). Semoga dari tulisan ini sedikit memberikan pencerahan untuk kalian yang akan berangkat final lomba yaaa ~Aamiin.

Ditulis oleh saya yang akan makan siang,
Selfiana.
Wassalaamu’alaikum.

Continue reading Self Edu: Tahapan Mengajukan Proposal Pendanaan Untuk Final Lomba Nasional

Senin, 26 Agustus 2019

Self Story: Serius Gagal Berangkat Ke Internasional Conference


Setelah dinyatakan lulus dari S1 Jurusan Akuntansi UM, aku mulai bekerja dan meninggalkan dunia pendidikan. Aku tidak bekerja sebagai guru (sesuai dengan prodi yang aku ambil), tapi justru jadi tenaga kerja divisi akuntansi dan keuangan di suatu perusahaan kecil di Surabaya. Inilah diriku, sarjana pendidikan yang tidak berakhir sebagai seorang pendidik.
Aku yang dulunya juga sempat mengajar les akuntansi (tiap weekend) di perpustakaan daerah Kabupaten Sidoarjo juga memilih berhenti dan fokus pada pekerjaan, dan belajar agama di setiap akhir pekan (datang kajian/ngaji). Meski begitu, tentu saja aku tidak ingin meninggalkan dunia yang sangat erat hubungannya dengan kegiatan literasi. Jangankan meninggalkan, melupakannya pun aku tak mampu ~sealay itu.
Sempat terbesit perasaan iri/kurang bersyukur/tersiksa ketika melihat teman lain bisa sekolah S2 tanpa keluar biaya (alias dapet beasiswa). Aku tidak bisa menafikkan hal itu, hihihi.
Kadang juga merasa kesal jika ada yang tanya “Loh Sel, ga lanjut S2?”
Aku hanya bisa berteriak dalam hati “Pengen bangetttt” tapi, kalian pasti tahu bahwa biaya sekolah S2 itu tidak murah. Kalo yang melontarkan pertanyaan beneran care sih gapapa, lha kalo cuman basa-basi doang? Itulah yang membuatku kadang sedikit kesal dan sangat malas menjelaskan perihal S2 wkwkwkwk. Mbok yaa pertanyaannya tuh diubah “Loh Sel, ga lanjut S2? sini aku sponsori” wkwkwk.
Anyway, aku pernah mencoba untuk mengambil tindakan paling labil dalam hidupku soal S2 ini. Aku memberikan nama kejadian tersebut dengan fase quarter life crisis. Kalo kemarin sempat ada perasaan iri/kurang bersyukur/tersiksa, sekarang rasa itu sudah mati (besok aku akan cerita, dan nulis tentang ini).
Bersyukur! Aku hidup dikelilingi orang yang selalu memantaskan diri menjadi hamba terbaik. Manusia-manusia yang memiliki semangat belajar yang tinggi. Setiap hari rasanya aku selalu dibuat belajar dengan mereka semua. Selalu ada satu kebaikan hingga kebaikan lainnya yang dilakukan orang lain dan itu sangat mempengaruhi pola pikirku.
Dulunya aku kaku dan sangat mengedepankan ego, sekarang lebih santuy tapi tetap dengan semangat dan jati diri yang sama. ~Apasi wkwkwwk.
Kalo kalian kebetulan follow ig aku, mungkin kalian akan menemukan sebuah foto dimana aku pose di depan photobooth International Conference. Jangan berekspektasi aku telah melakukan hal yang besar, karena aku hanya numpang foto aja disitu wkwkwkw.  Tepat sehari setelah aku menghadiri Inter. Conference tentang Pendidikan Khusus itu, aku merasa terpantik untuk memasukkan salah satu karyaku yang lama tersimpan di folder ke dalam international conference (Saat itu masih maju-mundur cantik, alias niatku yang masih belum bulat sempurna). Ditambah lagi, aku belum menerjemahkan full papernya, dan rentetan hal yang kemudian sempat membuatku "Halah ngga usah wis!"
Allah maha baik banget.
Disaat semangatku mulai kendor, Allah mengingatkan aku lewat si Ndrak. Orang yang konsisten menjadi manusia yang kadang bisa memberikan semangat tanpa harus berkata-kata. Aku mendengar kabar bahwa skripsinya ndrak masuk di internasional conference (seluru biaya ditanggung oleh dosen pembimbingnya. Hmmm what a good news).
"Kira-kira aku bisa nggak yaa kayak kamu gitu (mempresentasikan karya di Inter. Conf.)?" tanyaku pada Ndrak.
"Bisa lah, Sel. Kamu pasti bisa."
Aku yang saat itu merasa galau, mencoba bangkit, dan mengumpulkan sisa-sisa semangat. Aku kembali menengok satu amanah yang pernah aku terima dari dosen pembimbingku dulu,
“Coba nanti dimasukkan jurnal atau international conference ya, kalo diterima kabari saya. Ini bagus!” begitu kata dosen pembimbingku kala itu.
TEPAT SETAHUN
Bulan Juli tahun 2018 aku diwisuda, Juli tahun 2019 aku mendapatkan email yang menyatakan bahwa "We are pleased to inform you that your submission has been accepted for oral presentation at the 3rd World Conference on Education 2019 (WCDU 2019)".
Ya allah, karyaku diterima dalam prosiding World Conference on Education 2019, Kuala Lumpur – Malaysia (memang rada norak huhuhu) ~biarin dah.

Langsung sujud syukur. Pokonya seneng banget (tulisan recehku ituuuuu ternyata bisa jadi pertimbangan untuk dimuat di prosiding). Dalam email itu ada dua lampiran, acceptance letter dan sedikit hasil review (semacam skoring begitu). 
Aku segera menghubungi dosen pembimbingku. Saat itu aku berharap bahwa beliau akan mensupport seluruh biaya untuk mengikuti acara ini. Terdengar masih masuk akal, dalam hal ini dosen pembimbingku merupakan penulis kedua (berharap bisa kayak Ndrak gitu. Aku yang bagian nyiapin seluruh kebutuhan administrasi dan paper, beliau membantu dalam hal pendanaan).
Tapi inilah yang terjadi :"
Allah ternyata benar-benar pecemburu. 
Ketika aku berharap kepada selain-Nya, hatiku benar-benar diguncang. Aku menerima omongan miring dari salah satu dosen senior di kampus (Dosen langka yang telah menembus jurnal dengan sebutan Q1). Mungkin kalo dibahasakan secara kejam, perkatan beliau termasuk kategori julid dan nyinyir (dengan seenaknya nggata-ngatain aku yang enggak-enggak).
Aku tidak akan menceritakan detailnya gimana, yang jelas aku bisa mengambil hikmah bahwa sampai matipun, aku tidak akan bisa mengendalikan orang lain untuk memahami situasiku, yang bisa aku lakukan adalah mengendalikan/mengontrol pikiranku agar tidak mudah termakan dengan omongannya :"
Oiya, untuk siapapun yang membaca tulisanku ini. Aku harap, jika kalian kelak menjadi orang yang pandai, berilmu, dan dihormati orang lain tolong jaga lisan. Jika tidak bisa membantu setidaknya jangan menambahi dengan mengatakan hal-hal yang berkonotasi negatif. Oke? :)
Tidak meminta untuk dimengerti, karena aku mungkin juga tidak mampu mengerti orang lain
Tidak meminta untuk dihargai, sebab barangkali aku juga kurang menghargai orang lain
Yang aku minta hanya semoga Allah senantiasa menemaniku. Titik!
Allah maha adil.
Setelah aku menerima pesan julid itu, aku auto mengadu pada Allah tentang bagimana galaunya hatiku (mulai dari nangis, sampe ngeluh ini itu. Allah emang sebaik-baik tempat mengeluhkan isi hati). Keesokan harinya, hatiku tergerak untuk untuk menghubungi salah seorang teman baik. Sebagai teman baik, tentu saja apa yang keluar dari riwayat chat-nya berisi sesuatu yang menenangkan (menyarakankan agar aku tetap berangkat, memberikan semangat dan dukungan).
Keesokan harinya lagi, aku menghubungi salah satu dosenku yang saat ini sedang kuliah S3 di Curtin University. Beliau adalah Ibu Dianatien Irafahmi. Beliau merupakan dosen terbaik bagiku (cantik, cerdas, baik akhlaq-nya, tidak sombong, dan telah menyatakan bahwa beliau sama sekali tidak keberatan jika aku sharing tentang apapun kepadanya).
Bu Diana ini telah menjadi sosok yang konsisten memberikan aku arahan, bimbingan, dan motivasi sejak aku gagal lanjut S2 bulan Mei lalu (ngasih masukan2 yang berguna banget)
Alhamdulillah! Pagi itu beliau berkenan memeriksa info tentang konferensi WCDU. Tak lupa, aku menjelaskan kepada beliau bahwa aku bukannya tidak punya uang untuk berangkat, hanya saja aku mempertimbangkan hal yang lebih realistis. Jika aku memaksa berangkat dan menguras uang di tabunganku, apakah itu benar-benar worth it dengan impactnya kedepan?
Seolah memahami situasiku, Bu Diana memberikan saran padaku bahwa konferensi yang aku ikuti ini memang kurang reputable. Sebagai gantinya, beliau memberikan link list jurnal dan prosiding yang reputable baik di dalam negeri maupun luar negeri (Fyi. beliau membuat list itu sendiri). Allah memberikan apa yang aku butuhkan lewat Bu Diana. Beliau dengan baik hati memberikan aku masukan tentang apa yang harus aku lakukan jika aku tertarik dalam dunia jurnal ilmiah (terimakasih bu, telah meluangkan waktu ditengah-tengah sibuknya menuntut ilmu di Australia)
Akhirnya, 
Tentu, aku tidak akan semudah itu menyerah dan menyia-nyiakan kesempatan ini (meski semangat untuk berjuang sedikit luntur setelah mengetahui bahwa konferensi ini kurang reputable). Sembari berusaha mengirim proposal pendaan ke beberapa lembaga, Insyaallah aku akan tetap belajar. Jika nanti pada akhirnya belum bisa berangkat, aku tidak akan merasa kecewa sebab aku sudah berusaha sebaik yang aku bisa dan tidak berhenti untuk ikhtiar.

Ditulis oleh aku yang sedang menyemangati diri sendiri
~Selfiana Hanafi


Continue reading Self Story: Serius Gagal Berangkat Ke Internasional Conference

Minggu, 30 Juni 2019

Self Improvement: Adab Makan Part 1



Assalaamu'alaikum,
Entahlah ada apa dengan hari ini, aku jadi semangat ngotak-ngatik-dan ngutek blog ini (baru pulang dari gramed trus nyasar nonton interview Habibi Ainun 3) wkwkwkw. Oke, langsung aja. Setelah postingan sebelumnya, berikutnya adalah catatanku tentang ADAB MAKAN. Mungkin sebagian dari teman-teman udah paham banget gimana adab makan yang baik dan benar, tapi ndak ada salahnya juga aku tetap membagikan info ini ~ceilah.
Catatan kali ini adalah hasil aku duduk, mendengarkan, dan mencatat dari kajian mingguan di Masjid Al-Falah (Surabaya, 6 April 2019). Oleh karena aku datang terlambat, aku tidak tahu menahu siapa nama Ustadz yang mengisi kajian ini :” wkwkwk seriusan telat karena ban bocor.
Silahkan ambil pesan moralnya.
Pagi itu dimulai seperti biasa sampe dengan sarapan pagi. Berangkat emang sengaja mepet jam kajian. Subhanallah, di pagi yang mepet justru ada tragedi ban bocor. For real, waktu itu aku boncengan tiga sama mbak sama adekku wkwkwk (Ya kali, motor beat dipake boncengan tiga wkwkwkw. Udah gitu, jalanannya masyaallah super alus. Se-alus-alusnya sampe bisa bikin ban bochorrr). Dengan motor yang ban-nya bocor, aku terpaksa meminta mbakku untuk jalan kecil-kecil, sedangkan aku dan adek duduk di motor (mucuk banget sama dashboard motor wkwkw) untuk terus jalan sambil cari tambal ban. Kurang lebih, ngga sampe sekilo aku nemu tambal ban. Aku nurunin adekku di tambal ban, dan aku ngejemput mbakku pake motor yang bannya bocor tadi, dan aku sama mbak balik ke tambal ban lagi. Yap! Bolak-balik kayak orang kurang kerjaan banget! Asli, nggilani. Hahaha.
Aku menawarkan ke mbak, dan adek untuk nge grab aja, biar ngga telat. Tapi mereka berdua gamau, lebih memilih nungguin aku dan motorku yang … bocor!
“Waduhhh, mbak ini harus diganti … Ban dalemnya udah dedel,” kata tukang tambal bannya.
Si mbak bisik-bisik, intinya dia ngode kalo itu cuman modusnya tukang tambal ban yang gamau repot. Wajar sih mbak mikir gitu, soalnya emang gestur dan cara ngomong si Bapak agak gimanaaa gitu (judes, dan wajahnya tuh gak bersemangat menghadapi hari gitu wkwkwk).
Aku awalnya juga punya feeling yang sam, tapi setelah tak ingat lagi, emang sebelumnya ban motorku udah kena paku hampir 5xan. Terakhir kali, tukang tambalnya tuh asal-asalan banget. Lumrah, kalo bapaknya bilang ban motorku bobrok, Itu tuh ada benernya wkwkwk.
Aku yang awalnya diem aja, jadi bilang. “Yaudah Pak, mboten nopo-nopo diganti mawon”
Si Bapak langsung gerak cepat menuju rumahnya mengambilkan ban motor baru. Pas aku mau bayar, Eh disuruh bayar 10.000 aja dong. Waaahhhh, Alhamdulillah gak tuh? Setelah eyel-eyelan, si Bapak tetep ngga mau dibayar lebih.
“Niki leles kok mbak … pun sampean beto” ban ‘leles’ alias ban bekas motor orang yang bocor dan ditambal sama bapaknya sendiri.
Masyaallah,
Dari sini aku merasa bahwa aku berhasil meredam prasangka burukku. Hanya sebatas pikiran, dan tidak sampai diucapan. Aku menepisnya dalam hati, namun aku juga meminta pegampunan atas prasangka diri sendiri yang sempat memikirkan dugaan buruk pada si Bapak.
Well, akhirnya kami bertiga sampai di Masjid Al-Falah dengan selamat (tanpa ketilang wkwkwk mohon untuk tidak mencontoh tindakan cabe-cabean kami).
Sampe di Al-Falah, ternyata ruangannya udah penuh. Barokallah, rejekinya anak salihah! meski telat, aku duduk tepat barisan depan. Eitss! bukan karena ada kenalan orang dalam yaa wkwkw.
Tanpa merasa berdosa, aku lantas duduk, dan bersalaman dengan dua orang yang ada disebelah ku. Setelah salaman, teman sebelah ini dengan baiknya meminjamkan catatannya padaku. Otomatis, rasa syukurku semakin bertambah (Udah telat, duduk di deretan depan Pak Ustadz, trus dipinjemin catatan pula). Rasanya kok yaa gimana kalo ilmu yang secuil ini tidak disebarluaskan.
Yuk! Mulai bahas materi kajiannya (Isinya cuman berbagi catatan hasil ngaji aja, tidak lebih!)
Adab dalam makan atau Bahasa kerennya dikenal dengan table manner. Hal ini juga sudah diatur di dalam Al-Quran. Pak Ustadz menjelaskan bahwa adab makan terkandung dalam beberapa surah, yaitu surah Al-Baqarah 168, Al-Baqarah ayat 172, Al-Maidah ayat 88, Al-A’raf ayat 21, dan Al-An’am ayat 31. Seru kaannn?
Q.S Al-Baqarah ayat 168.
Dalam ayat tersebut dijelaskan tentang halalan dan thoyibban. Yang dimaksud dengan Halalan adalah halal barangnya, dan halal cara mendapatkannya. Let's say, kamu beli makanan yang halal, tapi belinya pake uang hasil nyopet/korupsi/uang hasil malak, ya sama aja bohong dong. Dua unsur diatas harus selalu diingat bahwa yang dimaksud halal adalah Halal barangnya, dan Halal cara mendapatkannya.
Berikutnya, yang dimaksud dengan thoyibban adalah meninggalkan hal yang kotor/samar/syub’at. Maksudnyaaa apaaahhhh yaaa? wkwkwk from my own mind, thoyibban lebih kepada meninggalkan sesuatu yang membuat hatimu ragu (definisi aslinya luas banget, tapi mungkin bisa dipersempit biar ndak membingungkan). Contohnya, kamu punya penyakit darah tinggi. Waktu ada durian montong atau lontong kikil, jauh didasar lubuk hatimu kamu pengen makan. Disisi lain, ada peri baik yang meneriakkan fakta soal darah tinggi dibadanmu yang akhirnya membuatmu ragu-ragu.
“Duuuuuh boleh ngga ya aku makan ini? Ntar kalo aku makan penyakitku kambuh, tapi kok aromanya menggoda selera yaa ....”
Nah, keragu-raguan ini bisa menjadi salah satu kategori tidak thoyib. Ingat juga bahwa makanan yang halal itu juga belum tentu thoyibban. Artinya, kita harus cerdas terkait membedakan mana yang baik untuk kita konsumsi dan mana yang tidak baik. Minimal harus paham ukuran RELATIF bagi diri sendiri. Q.S Al-A’raf ayat 21, diperbolehkan makan di dalam masjid dan diperbolehkan berbagi dengan orang-orang terdekat (tidak dikonsumsi secara pribadi dan berlebihan).
Misalnya lagi, aku suka es krim (yang udah jelas ada label halal dari MUI, dan cara beli/dapatnya juga insyaallah halal), tapiiiiii kalo aku beli es krimnya satu kotak frezzer dan kuhabiskan sendiri, kira-kira gimana? Meski halal tapi belum tentu thoyibban toh ya? Nah, mari kita kaitkan juga dengan Q.S Al-Maidah ayat 88. Memang benar, jika ada istilah bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik :)
Q.S Al Baqarah ayat 172
Adab makan yang berikutnya adalah tentang bersyukur kepada Allah atas apa yang bisa kita nikmati. Cara bersyukurnya gimana? Bisa dilakukan dengan tiga cara
·         Pertama, bersyukur dengan hati. Ketika seseorang mampu mampu bersyukur dengan hati atas apa yang menjadi rejekinya, Insyaallah akan terhindar dari sifat KEMARUK dan SERAKAH. Ada efek minimal dan maksimal ketika hati seseorang bisa bersyukur. Minimal, tidak grusa-grusu seperti orang yang belum makan satu abad. Maksimalnya, menjadikan apapun yang diterima sebagai sarana yang dapat menambah semangat dalam beribadah. Woaaah mantap kan?
Kadang, aku suka heran dengan praktek yang terjadi di kehidupan nyata (maunya tak kasih contoh tapi kok yaa takut salah wkwkwk ngga usah lah, cukup! Lanjutttt…).
·         Kedua, Bersyukur dengan lisan. Jelas! Apalagi jika bukan mengucapkan Alhamdulillah. Yang sering dicontohkan oleh orang-orang dirumah adalah ketika minum. Sebelum meneguk air minum mengucap Bismillahiallah Barokallah, dan setelahnya mengucap Alhamdulillah. Fyi, ini setiap tegukan ges hehe (diucap dalam hati, masa iya mau teriak-teriak? Kan ngga etis dong wkwkwk tapi kalo dirumah suka sambil teriak-teriak sih :v maksudnya biar di contoh sama adik-adik. Lagipula, jangan dibayangkan teriaknya kayak orang marah-marah yaaa, teriak disini masih dengan kasih sayang ~uhuy!).
·         Ketiga, Bersyukur dengan amal, dan perbuatan. Yang dicontohkan oleh Pak Ustadz adalah merenungi makanan atau Bahasa badainya adalah bertafakur atas makanan yang diperoleh. Antimainstream banget kan? Merenung soal makanan bukan soal mantan (emang punyak? Kagak!) hihihi. Maksud merenenung atas makanan adalah mengaitkan segala sesuatu dengan Allah SWT. Misalnya, aku makan tempe nih. Sambil makan, aku juga merenung
“Ya, Allah nih tempe enak bener ya? Ini kedelainya pasti di tanem pake pupuk unggul nih, trus diolahnya sama orang-orang yang ikhlas, trus orang yang masakin tuh penuh kasih sayang banget. Pantes aja yaa, bisa se-enak ini. Terimakasih Ya Allah.”
Hal serupa juga perlu dibayangkan ketika makan krupuk, dan makanan lainnya. Ingat, bukan bahagia yang membuat kita bersyukur, namun rasa syukur itulah yang menjadikan kita bahagia ~anonymous wkwkwk. Hal ini disebut juga I’tiraf atau mengakui bahwa segala nikmat berasal dari Allah SWT :”

 والله أعلمُ بالـصـواب
Wassalaamu'alaikum 
Sekian, 
Adab Makan akan disambung lagi menyesuaikan mood.
Ditulis oleh aku yang moody,
Selfiana~



Continue reading Self Improvement: Adab Makan Part 1

Sabtu, 29 Juni 2019

Self Improvement: Zifwaf, Transportasi, dan Dinar

Assalaamu'alaikum,
Aku membuat label baru khusus untuk menuliskan tentang kemajuan diri sendiri dalam belajar ilmu agama. Gampang-nya, ini adalah hasil pembahasan atas rangkuman ketika mengikuti kegiatan/kajian disetiap akhir pekan. Katanya, sebaik-baik ilmu adalah yang bermanfaat bagi sesama. Yasudah, ini adalah bentuk nyata dalam rangka mengamalkannya. 
Aku membuka kembali buku catatanku. Lembar pertama, tertulis coretan materi tentang sedekah, infaq, dan waqaf. Saat itu (Sidoarjo, 30 Maret 2019), aku mengikuti sebuah seminar yang membahas "Optimalisasi Zisfwaf di Era Industri 4.0" Jangan kaget kalo hasil rangkumanku tak se-keren pembahasan pembicara seminar. Mon maap, aku baru anak kemarin sore. 
Awal menjelaskan, Dr. Ifan (pembicara pertama) membacakan surah Al-Imron ayat 92. 
"Lan tanālul-birra ḥattā tunfiqụ mimmā tuḥibbụn, wa mā tunfiqụ min syai`in fa innallāha bihī 'alīm”
Artinya: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.
Dari ayat dan penjelasan pemateri, tiba-tiba tangan dan intuisi ngawurku menggambar bagan dibawah ini (Literally, from my own mind):


Umat islam itu terbagi menjadi dua yaitu kaya, dan cukup. Tidak akan ada yang namanya fakir dan miskin jika semua umat sadar akan ZISWAF (Zakat, Sedekah, Infaq, dan Waqaf).
Otakku bertanya-tanya, “ZISWAF itu apa? bedanya dari segi apa? nominalnya kah? Atau apa?”
Ir. Iwan Agustiawan Fuad (pembicara kedua) pun menjawabnya. Jika aku analogikan secara paksa, maka hasilnya seperti ini.
Ibarat kita mau pergi ke suatu tempat (surga), kita bisa memilih menggunakan kendaraan apa. Bisa pake motor (zakat), mobil (infaq), bahkan pesawat (waqaf). Mau pake kendaraan manapun, Insyaallah bisa tetep sampai pada tujuan.
Nah, secara tingkatan sudah jelas berbeda, apalagi jika dilihat secara fungsi.
Zakat, berfungsi untuk membersihkan harta karena merupakan rukun islam yang ketiga. Selain itu, pembagian atas zakat juga sudah ditentukan, hanya dibagikan kepada delapan golongan saja. Siapa delapan golongan itu? Kedelapan golongan itu adalah fakir, miskin, amil, mu’alaf, riqab, gharimin, sabilillah, dan ibnu sabil.  
Infak/sedekah, berfungsi untuk melemahkan harta. Infak dan sedekah serupa tapi tak sama. Perbedaannya, kalau infak lebih kearah materill sedangkan sedekah bisa dilakukan dalam bentuk non materil contohnya seperti senyum (mengatasnamakan senyum sebagai sedekah? Oke, tapi mohon tidak senyam-senyum setelah membaca tulisan ini). Intinya, sedekah memiliki arti yang lebih luas.
Waqaf, berfungsi untuk melepaskan harta. Benar, melepaskan memang susah. Ibaratnya, tidak semua orang bisa naik pesawat, sama halnya dengan waqaf (tidak semua orang bisa waqaf). Untuk waqaf memang lebih khusus, dijelaskan oleh Ir. Iwan bahwa waqaf ini harus dimanfaatkan secara berkelanjutan. Artinya, harus ada wujudnya atau doing by project. Misalnya, waqaf tanah untuk musholla, sarana pendidikan, dan lain sebagainya.
Ketiga kata yang aku bold ini berkaitan dengan judul diatas yaitu DINAR. Pak Imron (pembicara ketiga) menjelaskan bawha dinar berasal dari 2 kata, Din yang berarti dunia, dan Nar yang berarti neraka. Jika aku googling, DINAR adalah uang emas murni yang memiliki berat 1 mitsqal.
Trus apa hubungannya ZISWAF, TRANSPORTASI, DAN DINAR? Yok, coba start to connecting the dots.
Dinar/Uang, menentukan apa yang kita lakukan antara dunia dan neraka. Jika dalam membelanjakan dinar kita jauh dari ZISWAF maka dinar merupakan transportasi yang sangat memungkinkan kita untuk mengantarkan pada tujuan akhir yang salah, yaitu neraka. Namun, jika dalam membelanjakan dinar kita dekat dengan ZISWAF, maka dinar merupakan transportasi yang memungkinkan kita untuk mengantarkan pada tujuan akhir yang benar, yaitu surga.
 والله أعلمُ بالـصـواب
Waasalaamu’alaikum.

Ditulis oleh aku yang akan terus belajar,
Selfiana~


Continue reading Self Improvement: Zifwaf, Transportasi, dan Dinar

Jumat, 28 Juni 2019

Self Edu: Apa itu Literasi Keuangan Syariah?



Beberapa waktu yang lalu (hampir sebulan wkwkwk), aku mengikuti sebuah acara yang dihadiri oleh praktisi akuntansi syariah. Ditengah-tengah semangat yang membabi buta untuk memperdalam ilmu agama, aku juga tidak meninggalkan bidang yang selama ini menarik hatiku (akuntansi). Meski aku tidak begitu expert, namun aku diberikan kesempatan untuk hadir, duduk, menyimak, mencatat, dan bertanya di sebuah forum ilmiah. Tentu, hal ini membuatku bangga pada diri sendiri. Eitss, aku sadar betul bahwa aku duduk disana untuk mewakili teman-teman semua. ~ceilah!
Semua karena Allah. Jika bukan karena Allah, sama sekali tidak mungkin! Aku lo siapa btw? Butiran debu!
Niatan yang baik, ditunjang dengan usaha serius untuk belajar, mengantarkan aku untuk bisa berjalan di jalan yang terang. Sebelum aku duduk di forum itu, aku menggali informasi terkait dengan akuntansi syariah. Mencari tahu bagaimana praktiknya dalam kehidupan nyata. Maklum, meski dulunya juga pernah belajar di mata kuliah akuntansi syariah, aku masih suka lupa-lupa gitu dah wkwkwk.
Alhamdulillah! ketika sudah review dikit-dikit, aku jadi lebih nyambung dengan apa yang disampaikan oleh para keynote speaker dan jajaran praktisi yang soupppeeerr duperrr Masyaallah. Sungguh! Aku mencatatnya secara acak-acakan, dan dibawah ini adalah hasil rangkuman versi bagusnya (meski masih terlihat oret2an jugak).

Ketika aku bikin status di WA, beberapa teman menyerangku dengan manja wkwkw.
Sel itu apa? Sel itu maksudnya gimana? Jelasin!
Oleh karena saat ini sedang gabut akibat menyadari sebuah petunjuk (masalah hati), aku memutuskan daripada galau mending nepatin janji yang satu ini. Baiklahhhh
ACCELERATION SHARIA FINANCIAL/AKSELERASI KEUANGAN SYARIAH
Kenapa kok di Indonesia bermunculan bank syariah gini. Sejak kapan? Why?
Begitulah diriku yang terlambat berfikir ini. Mungkin diantara kalian sudah membuka rekening bank syariah sejak dulu kala. Hal ini berbeda denganku yang baru sekitar 4 bulan yang lalu beralih ke bank Syariah.
Menjawab pertanyaan receh diatas,
Indonesia merupakan negara dengan penduduk mayoritas beragama islam. Bukan hanya di Indonesia, fakta statistik (CIA World Factbook, 2019) juga menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara yang menempati posisi pertama dengan jumlah penduduk yang beragama islam sebanyak 225,25 juta jiwa. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk keseluruhan, maka diperoleh rasio sebesar 87,2%.
Oke, sudahi berbangga soal jumlah mayoritas beragama islam. Nah, sekarang gimana dengan praktik keuangan syariahnya?  
Indonesia dalam segi jumlah memang menang, namun dari segi praktik keuangan syariah masih sangat amat kurang. Bahkan, jika dibandingkan dengan negara upin-ipin pun, Indonesia masih tertinggal. Bayangkan, Indonesia hanya mampu berada di urutan ke-9 dari 10 negara islam lainnya, dari sisi aset industri jasa keuangan syariah. Itulah mengapa diadakan sebuah forum ilmiah yang secara khusus membahas tentang bagaimana percepatan keuangan syariah di Indonesia ini bisa berkembang lebih baik lagi.
Logikanya sudah ketemu ya? Lanjuttt….
Merujuk pada catatanku, dalam acara tersebut dijelaskan bahwa:
1.       Indonesia masih harus menguatkan strategi untuk meningkatkan KESADARAN LITERASI dalam hal keuangan syariah. Untuk melakukan itu, dibutuhkan sinergi yang baik dengan seluruh lapisan komunitas. Pemerintah sudah menerbitkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dibidang keuangan, dan perbankan syariah. Tidak hanya pemerintah yang berperan, Praktisi, Bank Indonesia, Penyedia Jasa Perbankan, dan Masyarakat, Akademisi juga turut bersinergi.
2.       Perkembangan industri keuangan dan perbankan syariah di Indonesia tuh sudah berjalan sejak 25 tahun yang lalu. Jadi, sebelum aku lahir di dunia yang fana, keuangan syariah tuh sudah ada. Tapi sayangnya, pertanyaan receh diatas baru timbul ketika aku duduk dibangku kuliah (tepatnya diusia yang rentan galau antara jajan beli ini itu, atau hemat demi beli buku-buku). Selama 25 tahun berjalan, ternyata keuangan syariah di Indonesia masih memiliki banyak tantangan. Salah satunya adalah tentang kemampuan untuk punya sumber daya manusia (SDM) yang paham, kompeten, dan mumpuni dalam keilmuan keuangan syariah.
3.       Sebenernya Literasi Keuangan Syariah tuh gunanya buat apa?
Pada intinya, prinsip keuangan syariah mengacu pada syariat islam yang berpedoman pada Al-Qur’an dan hadist. Islam sebagai agama merupakan konsep yang mengatur kehidupan manusia secara komperehensif, dan universal baik dalam hubungan dengan Sang Maha Kuasa (habbluminallah) maupun hubungan sesama manusia (habbluminnas) KOK JADI CERAMAH????? Mon maap!
Islam memberikan petunjuk tentang segala hal yang dilakukan dalam hidup, jika dikaitkan dengan tujuan melakukan kegiatan keuangan syariah, maka diperoleh tigal hal berikut ini:
a.       Akan tercipta peningkatan perilaku baik seseorang dalam sebuah lingkungan,
b.       Memberikan rasa aman dalam diri manusia itu sendiri, dan
c.       Ikut serta menyokong stabilitas ekonomi di Indonesia.
Tiga hal ini juga akan berpengaruh pada tigal hal lainnya yaitu, kemampuan, perilaku dalam keseharian, dan etika dalam menjalankan kehidupan.
Artinya, silahkan di kritisi sendiri (kepoin tentang hubungan keuangan syariah dengan banyak hal). Jika kamu sadar betapa indahnya muamalah dengan konsep syariah, Pasti! dengan sendirinya bakal bilang “That was amazing”.
Aku tidak ingin menjelaskan bagaimana pikiranku bisa bercabang, dan mengaitkan satu hal dengan hal yang lainnya, karena mungkin pikiran dan cabang-cabang dalam otakku ini bisa terdengar salah, alay, berlebihan, dan nggak nyambung kadang-kadang. Harap maklum, dulu jatah SKS di-mata kuliah akuntansi syariah hanya dua SKS (Dua gindil SKS yang sangat kurang untuk seorang hamba yang gak tau apa-apa sepertiku). Ingin tahu lebih lanjut? Mari berdiskusi denganku belajar dengan meningkatkan kegiatan literasi! wkwkwkw  
4.       Literasi keuangan syariah? Biar apa sih??
Biar familiar! At least kedepannya makin paham dan sadar dengan keberadaan penyedia jasa keuangan syariah (pindah dari konvensional menuju syariah). Dengan begitu, akan mudah tercipta keseimbangan antara layanan keuangan syariah, perencanaan keuangan secara syariah, dan dampak pemahaman tentang keuntungan bermuamalah dengan konsep syariah.
Disini aku sama sekali tidak menjelaskan tentang pengertian keuangan syariah itu apa, karna aku yakin diluar blog ini, sudah ada jurnal ilmiah, dan artikel yang lebih berbobot untuk kalian baca. Sengaja nulisnya gini aja, biar makin penasaran. Yang jelas, aku ingin mengajak kalian membuka tabungan syariah menggunakan akad wadiah. Bisa pake layanan bank manapun, yang jelas mari buka rekening baru, di bank syariah saja.

ditulis oleh manusia yang menolak untuk patah hati,
Selfi~
Continue reading Self Edu: Apa itu Literasi Keuangan Syariah?

Selasa, 28 Mei 2019

Self Edu: Cara Menulis Novel


Bismillahirohmanirohim… Pada siang hari ini aku mau wasting time buat menjawab pertanyaan teman-teman Musholim.
1. “Mbak, gimana caranya nulis novel?”
2. “Mbak, kok bisa bikin alurnya rapi?”
3. “Mbak, kalo mau nulis mulainya darimana?”
4. “Mbak, kasih tips dong caranya nulis!”
5. “Mbak Ajarin aku nulis”
6. “Mbak, aku gapaham PUEBI aku ga paham KBBI juga. Trus gimana dong?”
Nah semacam itu pertanyaannya.
Aku sebenernya ngga layak banget mau berbagi ginian ke kalian semua. My love, pahamilah bahwa aku ini juga masih sangat amat pemula. Dalam hal menulis novel aku sama sekali ndak punya bekal apa-apa. Pelatihan menulis novel? Wkwkwk boro-boro.
Mengapa kalian menanyakan hal ini padaku? Bukankah seharusnya kalian nanya ke penulis-penulis hebat yang sudah menerbitkan banyak buku diluaran sana? Aku lo apa? cuman butiran debu! Karya di Wattpad aja baru satu.
Hmmmm Astaghfirullah aku!
Tapi tapi...
Balik lagi pada keinginan untuk bisa bermanfaat. Sangat sedikit ilmu yang aku punya ini, tapi entahlah kenapa aku ingin tetep membagikannya. Entah itu bakal berguna atau nggak. Setidaknya aku sudah mengikatnya. Kata Sayyidina Ali ra. “Ikatlah ilmu dengan menulis”. Nah! Mungkin tulisanku ngga berkualitas, tapi kembali lagi.. aku ingin mengikat ilmu itu. Minimal kalo aku udah ngga ada didunia, tulisan recehku ini akan menjadi saksi betapa aku ingin berguna bagi sesamaku. Hehe
Ngomong soal nulis novel..
Satu orang menjadi inspirasiku untuk menuliskan sebuah karya. Karya yang sedikit berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Oke tanpa panjang lebar, inilah prosesku menulis novel ala-ala. Sekedar mengingatkan, ini semua based on my personal experience. Aku bisa menulis ini karena sebelumnya aku sudah mencoba. Jalannya mungkin ngga semulus orang-orang diluar sana tapi yawdahlah semoga bisa bermanfaat dan bisa menjadi PEMANTIK supaya kalian juga SEGERA ikut MENULIS.

1. MULAI NULIS 
Aku punya akun Wattpad sudah sejak tahun 2016 (Wattpad itu apa? silahkan cari di google). Banyak dalih kenapa aku baru mulai nulis di 2019 ini. Nggilani kalo dijelasin alasannya apa.
Bagiku, menulis itu bukan sekedar mengutarakan isi hati atau imajinasi kita, melainkan juga menunjukkan identitas orang yang ada dibaliknya (identitas penulis itu sendiri). Apa yang dituliskan itu bisa menggambarkan dengan jelas bagaimana cara berpikir, dan sudut pandang penulis. Makanya, kalo mau nulis, niatnya jangan sampe salah. Ngga boleh asal-asalan, harus ada niat baik didalamnya,
Bener sih kalo semua akan Indah pada waktunya. Tapi kalo ga ada USAHA? yaa gak bakal nemu Indahnya dong. Bener ndak?
Jadi…
Mulai nulis sekarang juga! Benerin niat! Apapun yang kamu tulis, niatkan untuk ibadah. Niatkan untuk hal yang baik-baik aja lah pokonya. Cara mengawalinya gimana? Selain dengan langsung nulis, kalian juga musti perhatikan beberapa hal:
*Awal mula, tentukan genre novelmu (fiksi/misteri/romance/spiritual/Islamic/komedi/petualangan) atau apa. Silahkan ditentukan. Kalo aku pribadi, mengawalinya dengan menulis novel fiksi romansa islami. Semi curhat gituu wkwkwk. Bisa dilihat di akun wattpad ku @selfiana_hanafi. Karya pertamaku judulnya “Lantunan Doa Untuk Halim”. Sangat ringan untuk dibaca diakhir pekan. Insyaallah kalian bisa menikmati alurnya dan tetep mendapatkan nilai positif dalam tokoh-tokoh novel itu. Alhamdulillah, udah ada juga salah seorang teman yang sekarang sudah mulai menulis. Dia mengawalinya dengan bikin cerita misteri (tentang mutilasi-mutilasi gitu).
Pokonya, coba diawali dengan genre yang menurut kalian ringan, dan tidak memberatkan. Setidaknya, itu bisa jadi titik awal membangun sugesti bahwa “MENULIS ADALAH KEGIATAN ENTERTAINKU”. Asli. Seru banget ketika nulis udah jadi semacam kegiatan refreshing. Keasyikan menulis bisa setara dengan nonton drama korea. Hmmm Alhamdulillah betul.  
*Tentukan Awal dan Akhirnya (Plot maju/mundur cantik/ campuran). Trus beri batasan mau dibikin berapa bagian. Buat timetable yang jelas kira-kira selesai nulisnya kapan. Target diri sendiri. Misal “Insyaallah aku bisa nyelesaiin cerita ini dalam waktu empat bulan”. Nah… disitu ntar gabakal ada waktu yang kebuang sia-sia.  Tiap ada waktu luang pasti langsung kepikiran buat ngerjakan. Tanpa ada alarm, tanpa ada yang ngingetin sekalipun. Naturally, bisa jalan sendiri.
*Tentukan ada berapa tokoh dalam ceritamu. Kalau sudah, sekalian tentukan mana yang protagonis dan antagonis… Coba visualisasikan dengan jelas. Bikin oret-oretan. Kalo di novel pertamaku, aku ngebikin setidaknya ada 15 tokoh hidup dan ada juga yang cuman figuran.
*Biarkan imajinasi liarmu berkelana. Ketika ditanya, “Mbak… kok bisa bikin alurnya hidup?” Bukan pelit atau apa, tapi aku sendiri juga susah jelasinnya gimana. Ini bener-bener random. Aku sendiri awalnya udah bikin setting “Oke!…ntar gini, trus gini, trus gini” pikriku. How bout reality? Beda banget. Seringkali aku tulis, hapus, tulis, hapus. Sampe kapan? Sampe aku bener-bener srek! Kadang, meski udah selesai nulis, aku semacam tiba-tiba dapet ide dari kejadian sehari-hari (misal lagi ndengerin ceramah, eeh kok bagus atau abis baca apaaa gitu), Nah... pengen tuh tak masukin di alur. Meski udah ada setting awal tapi aku kayak yang bener-bener fleksibel gitu. Let it flow. 
*Banyakin baca. Ini sih yang aku ngga pernah bosen untuk ngingetin ke siapapun. BACA itu penting bangetttt. Asli. Kalo kataku “Ga mungkin orang bisa nulis, kalo dia ga pernah baca”. Itulah kenapa di mata pelajaran TK bunyinya BACA-TULIS-HITUNG (CALISTUNG). Bukan lagi TULIS-BACA-HITUNG (entah dah kalo disingkat jadinya apa, TULBATUNG?? Wkwkw kok jelek ya?). Meski kerjaanku sangat erat kaitannya dengan menghitung, tapi aku tetap memberikan prioritas terbesar pada membaca.
Noted! Untuk langkah awal…. Jangan pedulikan soal bagus atau buruknya karyamu. Awal-awal yang dibutuhkan adalah kemauan. Yang penting MAU dulu. Kalo udah mulai nulis, ntar pasti bisa menyesuaikan “Ehh kayaknya kalo gini ga pas deh, kalo gini kayake kurang menarik deh, kalo gini kayake kurang oke deh” Nah sejalan dengan kemauan kalian untuk menulis, sadar atau tidak kalian akan mulai mampu memecahkan pertanyaan-pertanyaan yang sangat nggak nyaman barusan. Setelah memulai, pasti ntar ada keinginan untuk nulis yang sesuai EYD, KBBI, PUEBI.

2. LUANGKAN WAKTU 
STOP! Membandingkan diri dengan orang lain. “Waaah, karya itu kok dah dibaca 1 triliun kali. Waah itu kok karyanya udah xxx xxx xxx dst.” Cukup! Pahami saja bahwa Allah itu menciptakan kita lengkap dengan keunikan masing-masing. My love, kamu dan aku adalah hamba yang spesial. Jadi, jangan membandingkan diri yang berujung pada kufur nikmat. Membandingkan diri boleh, tapi harus berujung TERMOTIVASI. Misal, “Waaah mbak Selfi yang receh aja bisa, berarti aku juga bisa? Iya! aku bisa banget!”. Nahh, kalo begitu sangattt boleh.
Maksud dari jadi dirimu sendiri disini adalah temukan gaya menulismu sendiri. Sebisa mungkin, gimana caranya orang kalo baca tulisanmu itu bisa kebayang “Ini tulisannya Selfi!” langsung bisa begitu. Wkwkwk Tulisan yang memiliki identitas. Jangan ragu! karna kalo kamu meragukan dirimu sendiri, gimana dengan orang lain?
"Mbak, cara nemuin gaya menulis itu gimana?"
Ya mulai menulis dong! kalo sudah menulis, cintai tulisanmu sendiri. Milikilah rasa bangga dengan segala hal yang sudah kamu lakukan. Ingat! Selagi belum ada orang lain yang mengapresiasi, dirimu sendiri yang harus menjadi orang pertama yang mengapresiasinya. “Gut Job Sel. Udah oke kok! Semangat yaaa aku! Besok nulis lagi” Nah, dah kayak orang sedih gak sih nyemangatin diri sendiri gitu? Wkwkwk tapi itu beneran bekerja kok. Coba aja! 
Nulis pake gaya bahasamu sendiri. Oke? 

3. HARUS BANGGA
Dimanapun aku berada. Entah itu tempat kerja, komunitas, teman main, grup, atau apapun. Aku ngga pernah malu untuk memperkenalkan karya yang aku tulis. Tanpa ragu aku memberitahukan ke oranglain (mohon untuk tidak menganggap tindakan ini sebagai PAMER). Anggap saja ini sebuah usaha menghargai diri sendiri.
“Novel saya yang berjudul LANTUNAN DOA UNTUK HALIM” wkwkwk dimanapun aku berada, aku pasti menyuarakannya. Termasuk di blogku sendiri
Pokonya jangan malu. Kenapa? Ya! Karena kalian menulisnya pake effort kan? Dan effort itu harus kalian hargai. Kalo kalian ngga ngehargai kinerja diri kalian trus siapa yang mau ngehargai cobak?
Aku pernah baca tulisan “Ketika kamu malu dengan karya yang kamu buat, disitulah letak kegagalan pertamamu”. Kalo yang nulis aja ga bangga gimana bisa orang lain ikutan bangga?
Aku tau… pendapat ini pasti pro-dan kontra, tapi coba ambil positifnya yaa.. Oiya satu lagi. Tetep menjadi pribadi yang terbuka dengan kritik dan saran. Mau kritik pedes atau apa? udah terima aja. Kalo dapet kritik pedes, gapapa abaikan mudharatnya, ambilin positifnya.

4. ANGGAP SEBAGAI PROSES BELAJAR
Entah ini apa, aku selalu menganggap bahwa hidup sejatinya proses belajar. Ya! punya proses belajar wkwkwk alay bener. Yawes gitu.. Ketika kalian udah berhasil menulis satu karya, jangan berhenti. Trus konsisten dan bikin target capaian-capaian. Mulai dari yang receh sampeeeek yang keliatannya mustahil.
Siapa sangka?
Padahal pemula tapi sok-sok mau ketika diminta menjadi editor project menulis komunitas dakwah muslimah. Editor? Hello from the other side? Editor. Dengan pengalaman yang nol ini aku berani menerima tanggung jawab itu.
“Kenapa ukhti jadi mau jadi editor?”
“Karena saya tidak pernah jadi editor, jadi biar pernah”
Wkwkwkw konyol banget kan? Jujur melebur. Pikirku, kalo aku jadi editor aku bisa belajar nulis yang bener kayak apa. Nulis yang ngga sekedar “MAU MAU AN” tapi yang bener-bener betul. Heleh! Intinya, aku mengambil tanggung jawab itu karena aku mau belajar. Aku seneng bisa baca karya orang, aku juga seneng bisa bedain gaya menulis orang lain. Semakin banyak baca, semakin aku paham “Alahmdilillah, jadi gini ya…” muncul perasaan semacam itu.
Kemauan diawal menuntunku menghasilkan beberapa tulisan baru.. Percaya atau tidak aku sekarang punya 4 Novel yang lagi ku kerjakan.

Tiap novel aku buat tantangan-tantangan. Misal, novel kedua bahasanya harus naik level. Bukan yang ringan-ringan lagi. Novel ketiga, pesan yang disampaikan harus lebih dominan daripada ceritanya. Novel keempat, coba bikin novel dengan genre baru. dan seterusnya. Harus naik tingkat. Pelan aja tapi pasti, mulai merambah ke penerbit. Cari-cari penerbit, dan lain sebagainya. Harus Ada Proses 
Belajarnya.


5. PASTI BISA
Jangan meremehkan dirimu sendiri. Kamu tuh bisa. Tinggal kapan mau eksekusinya. Iya! Kapan???? Sekarang dong ya (^0^)

Semoga setelah aku menulis ini, akan banyak DM DM bermunculan, atau email-email bermunculan yang minta koreksi atau sharing bareng soal tulis menulis. MUSHOLIM? Mari beraksi, dan mengeksekusi. Meski banyak sekali tanda seru, aku ngga sedang marah-marah. Aku tetap menulisnya dengan penuh cinta wkwkwk. Oke, sekian. 

Salam dari aku yang masih pemula.
~Selfiana.

Continue reading Self Edu: Cara Menulis Novel

Kamis, 06 Desember 2018

Self Story: 45 Menit Ngobrol, Langsung Jadi Sodara


Mendapatkan kesempatan untuk pergi ke Bandung (fully-funded) ketika udah ga lagi jadi mahasiswa merupakan hal yang menyenangkan. Sungguh penutup akhir tahun 2018 yang manis. Sangat bersyukur, mengingat hampir semua orang ikut support (keluarga, teman kerja, dan semua sahabat-sahabatku yang baik hati dan budi pekertinya wkwkwk). Alhamduliilah, Ijin ga masuk 3 hari kerja tidak dipersulit. Justru malah di support doa-doa sweet. Persiapan untuk dateng diacara IVAC 2018 sudah 95% ready. Semoga kesehatan tetep bisa diajak fight dan bisa menyelesaikan misi sampai balik ke rumah dengan hasil yang terbaik. ~Amiiiiinnnnnnnn seperti biasa I’ll do my best J.
Sekarang ini aku berada didalam kereta menuju stasiun Bandung. Meski sendirian I still believe kalo orang baik itu akan dipertemukan dengan orang-orang yang baik pula. Menuju Bandung menggunakan kereta Turangga dan duduk di gerbong eks. 4 seat 2D (detail information). Sebelahku, ada mbak Nisa. Perempuan yang duduk, makan, ngobrol, tidur menghabiskan waktu hingga menuju Bandung bersamaku (baru kenal). Awalnya canggung banget, berkat permen semua jadi ikutan manis wkwkw Ya! Berkat ngasih permen suasana jadi lebih melt. Aku sama mbak Nisa mendadak bisa sharing tentang banyak hal, mulai nanyain nama, keluarga, tempat tinggal, sampe kesangkut tuh bahas tentang hubungan asmara wkwkwkw She's really humble, friendly, and also too excited when she talk about her husband Yah! Itu karena dia baru aja menikah (ceritanya dia ke Bandung mo pulkam). Lucunya, banyak banget kesamaan diantara kita yang baru aja kenal dan ketemu di perjalanan ini. Exactly, kita sama-sama mau ke Bandung, trus dia baru lulus tahun ini, daaaaaaaaaaan jurusannya juga sama-sama akuntansi (makanya bisa nyambung pol waktu ngobrol soal financial planning ala ala pengantin baru). Ada persamaan, ada juga perbedaan. Perbedaan yang paling mencolok adalah dia udah pake cincin dari suaminya, dan gua masih pake cincin dari ibuk wkwkw (sungguh perbedaan yang sangat menohok bukan? santay woy santay). Intinya adalah ga jadi sendirian ~aye-aye
Dari mbak Nisa (23), aku sedikit belajar gimana caranya ngeredam ego. Selama ini aku sadar banget kalo aku cukup keras kepala, dan egoku masih gede banget (Conclusion, all of people who stand around me adalah orang-orang yang teruji bahwa kesabaran mereka 99,9% tingkat dewa). Setelah ngobrol random, aku bisa menilai bahwa Mbak Nisa itu dewasa banget. Mulai dari cara berpikirnya, cara dia jawab pertanyaan-pertanyaan kehidupan receh dari aku. Yaaa~ alhamdulillah diberikan kesempatan bertemu dengan Mbak Nisa (kabar baiknya dia mengundangku main kerumahnya nantik wkwkwkw the power of bisa bersaudara setelah kurang dari 45 menit berbicara) hehe. Mantulssss???


Entah yaa kenapa aku gabisa diem aja kalo duduk dan baru ketemu orang baru. Bukan SKSD, tapi lebih kepada keinginan untuk talk with them, and also make a relationship with them (emang dasarnya makhluk sosial ya ga bisa idup sendiri T.T jadi wahai teman-teman yang pernah menilaiku individualis, marilah baca postingan ini wkwkw bedakan mana individualis, dan idealis. Oke?). Ini mbak Nisanya lagi tidur jadi yaudah ketimbang boring aku nulis aja hehe.
Selain nulis blog ini, aku baru aja search tempat-tempat bagus yang bisa aku kunjungi disela-sela kegiatan IVAC 2018 besok. Banyak banget tempat unik dan artistik yang pengen bangeeet aku kunjungi huhuhu tapi jelas ga mungkin aku kunjungin semuanya. Well, aku memutuskan untuk mengunjungi beberapa tempat dibawah ini :
1.       Masjid Agung Bandung: dilihat dari gambarnya di google, Masyaallah cantik banget halamannya. Ada taman seluas lapangan gitu, mau lah sholat I’tikaf disana :” hehehe. Suka sih emang ngunjungin masjid agung (pengen gitu someday bisa menjelajah di masjid agung-masjid agung di kota lainnya ~gratisan kalo bisa wkwkwk). Nah! Buat note, aku udah googling alamatnya juga btw wkwkwk tepatnya di Jalan Dalem Kaum No.14 Balonggede Regol Bandung wkwkw niat banget kan? Namanya kesempatan ya ga boleh disia-siakan ya kan ? kapan lagi bisa Jalan-jalan gratis :v
2.       Observatorium Bosscha : ini semacam bangunan yang didalemnya berisi teropong-teropong gitu (kalo udah disana pasti reviewnya lebih berkualitas wkwkw ini cuman info berdasarkan yang kubaca di google beberapa hari yang lalu). Aku sudah cek jugak,  alamatnya di Jalan Peneropongan Bintang No.45 Lembang Bandung. Tampat ini dulu pernah dibuat shooting FTV gitu wkwwkwk makanya pas liat di google langsung kayak yang sotoy seru hahaha.
3.       De Ranch : sumber dari google image menunjukkan kalo tempat ini apik seru wkwkwk. Hopefully bisa main kesini dan katanya tiket masuknya cuman 10.000 itupun nanti bisa ditukerin sama susu sapi murni. Milk hunter everywhere ^^ kebenarannya sok mben aku buktikan. Tempatnya di Jalan Maribaya No.17 Kayuambon Lembang Bandung.
4.       Begonia Garden : ini taman bunga kayae mantep buat dikunjungi alasannya adalah deket sama de ranch wkwkw jadi bisa menghemat transport. Lokasinya di Jalan Maribaya No.120A Legensari Lembang Bandung (Yaaa lumayan dari No.17 ke No.120A Ohhsssiyaaap jalan kaki bikin sehat :v uwuwuw)
5.       Tangkuban Perahu : wes ini hal yang mutlak, kudu kesini pokonya (semoga bisa ~aminnnn)
Tertanda, aku yang selesai belajar, makan malam, namun tetap susah tidur di kereta hingga memilih untuk nyampah di blogku sendiri hihihi harapanku hanya satu, “………………..” ~al fatihah ~amin! Semangaaaattt !!!
~sekian.



Continue reading Self Story: 45 Menit Ngobrol, Langsung Jadi Sodara